Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Home » , , , , , » Debat Tentang Poligami

Debat Tentang Poligami

Written By Guru GO on 13 Januari 2014 | 13.54

Lika-Liku Poligami Anis Matta (Bagian Kedua)





Bagian ini adalah lanjutan dari Bagian Pertama: Manajer Toko dari Budapest

Bagi Szilvia, pelaku poligami adalah kaum chauvinist yang egois dan menganggap diri superhuman. Rupanya itulah yang membuat perdebatan mereka seru dan rupanya tambah seru tambah penasaran. Perdebatan ini mengingatkan aku pada kisah bung Karno dan Fatma, gadis cantik dari Bengkulu. Dalam pembuangan, si Bung sempat menjadi guru Agama di sekolah Muhammadiyah Bengkulu.

BUNG Karno sudah menikah ke-2 dengan Ibu Inggit dan memboyongnya ke Bengkulu bersama Ratna Juami, sang anak angkat. Sore hari, Tokoh Muhammadiyah Bengkulu menitipkan anaknya untuk les agama sore hari kepada Soekarno, dialah Fatmawati. Suatu sore, Ratna tak ikut les dan tinggal mereka berdua. Menarik bahwa saat itu Fatmawati bertanya soal poligami. Bung Karno menjawab, bahwa zaman dulu banyak peperangan dan banyak lelaki mati di medan perang. Sehingga banyak janda.

Bung Karno melanjutkan cerita bahwa untuk itulah poligami dibolehkan oleh Islam. Fatma terdiam, entah apa yang dipikirkan. Entah apa yang sebetulnya terjadi tapi kemudian kita tahu Fatmawati menjadi isteri proklamator dan menjadi ibunya Megawati. Aku juga tidak tahu apa penjelasan @anismatta kepada Szilvia. Tetapi Szilvia nampak beda hari itu. Waktu kami berjumpa kerudungnya sudah sempurna. Dan dia menyampaikan terima kasih kepada kami.

"Terima kasih," kata dia. Karena akibat pertemuan singkat dulu dia belajar Islam dan menjadi muallaf. Szilvia juga mengantarkan kami ke Islamic Center of Budapest dan mempertemukan kami dengan pimpinannya. Pimpinan Islamic Center kagum dengan Szilvi bisa kenal @anismatta orang Indonesia yang fasih berbahasa Arab. Memang umumnya mereka meski jadi imam belum bisa berbahasa Arab. Tapi ramai sekali Islamic Center ini.

Kata Szilvi setiap hari ada saja yang masuk Islam di IC Budapest dan umumnya mereka gadis. Entah mengapa. Sore itu kami dikenalkan oleh sang imam 7 gadis dari kawasan Eropa timur yang menjadi muallaf bersama-sama. Kisah mereka menarik tapi kita kembali saja kepada kisah @anismatta dan Szilvia fabula. Mereka terus berdebat. Sampai kami kembali lagi ke Jakarta, kami belum mendengar ada kisah cinta. Semuanya dialog tentang Islam.

Szilvia harus dilihat sebagai sosok yang juga tidak gampang menerima ide-ide Islam. Latarnya rumit dan sangat rasional. Karenanya juga tak gampang debat-debat itu dimenangkan oleh @anismatta. Email pertama yang ditunjukkan padaku sangat berat. @anismatta memang terbantu karena cukup memahami sejarah peradaban barat dan komplikasi panjangnya dengan Islam. Maklum dulu beliau yang sering mengisi materi Gozwul Fikri di kalangan aktivis dakwah.

Jen rupanya juga memberikan beberapa buku keislaman yang ditulis untuk memasuki pemikiran Barat. Misalnya buku Khurshid Ahmad bersama beberapa pemikir lain "Islam Its Meaning and Message". Buku ini sangat dikenal. Sebagai penggemar filsafat, Jen juga mengirim buku yang terkenal di barat. Jen kutahu senang Erich Fromm. Kita tahu bahwa Erich Fromm adalah seorang humanis filsuf jerman abad 20 yang dikenal sebagai penganut mazhab frankfurt.

Jen merekomendasikan buku-buku Erich Fromm seperti The sane Society dan The Art of Loving. Meski sangat singkat korespondensi dan setumpuk buku filsafat dan alquran bahasa Hongaria cukup berkesan. Dalam waktu singkat Szilvia Fabula melalap buku pemberian atau rekomendasi kawan korespondensinya itu. Pergulatan pemikirannya selama ini rasanya terjawab dalam banyak buku-buku seperti itu di samping al-Qur'an tentu saja.

Szilvia sudah membaca al-Qur'an dan terjemahannya sampai khatam sebelum akhirnya memeluk Islam. Bacaan al-Quran bersama buku-buku lain membuka jalannya menemukan kebenaran dan memantapkan keyakinan dalam hidupnya. Tentu faktor-faktor pemikiran saja tidak dengan sendirinya mendorong orang masuk Islam. Biasanya ada faktor emosi juga. Faktor emosi tentu bersumber dari seseorang. Atau suatu kejadian. Inilah yang kuduga banyak melibatkan Jen.

Saya mendengar suatu ketika ayah Szilvia menderita kanker mata dan dioperasi dengan menggunakan mata buatan. Ia tergoncang tanpa pegangan. Szilvia memang sudah menamatkan al-Quran dan kitab filsafat...tapi tetap abstrak. Saat itulah Szilvia berjanji jika ayahnya bisa sembuh total maka ia akan segera menyatakan diri Muslim. Dan itulah yang terjadi. Ayahnya sembuh total dan sehat hingga sekarang. Bahkan sudah 3 kali ke Indonesia.

Kesembuhan total ayahandanya tercinta nampaknya banyak menambah keyakinannya dalam berTuhan. Selama ini keyakinan itu seperti datang dan pergi. Seperti ada dan tiada atau seperti penting tidak penting. Kini beda. Menurut kisahnya, 31 januari 2006 Szilvia bersyahadat di Islamic Centre Budapest...jen tidak diberitahu.

SZILVIA nampaknya ingin mengalaminya sebagai sesuatu yang murni. Belakangan banyak kisah lucu dalam pencariannya. Sambil mencari arti Islam maka yang dicari juga adalah tentang siapakah @anismatta? Lelaki yang kini jadi sahabat pena-nya dan mengirimnya buku masih menyimpan tanda tanya. Salah satu artikel yang ia browsing bahkan menyebut @anismatta sebagai tokoh fundamentalis radikal. Tentu itu beda dengan apa yang dia temui di inbox emailnya. Seorang lelaki terbuka pembaca filsafat dan sejarah barat. Tapi baginya sekarang dia sudah menjadi seorang Muslimah...dengan keyakinannya sendiri. Jen akhinya diberitahu.
Jen tentu kaget karena dia tak menyangka keputusan besar diambil szilvia secepat itu. ALLAHU Akbar. Szilvia menurutku bukan pencari kebenaran biasa. Dia gigih dan determinan. Aku dengar dari jen. HARI-hari setelah bersyahadat dan apalagi setelah memakai jilbab maka Budapest menjadi tak mudah baginya. Ia harus menjawab banyak pertanyaan dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. "Mi történt veled Szilvia?"

Itu saya translate, "Ada apa denganmu Szilvia?" Kira-kira dalam bahasa Hongaria itu pertanyaan terbanyak baginya. Szilvia bukan kalah. Dia bahkan meyakinkan banyak orang dengan agama Islam. Dia aktif di Islamic Center. Sampai setelah bermukim di Jakarta dia masih terus meyakinkan keluarga dan sahabatnya terdekat. Tahun lalu, Szilvia meyakinkan neneknya tercinta bersyahadat...alhamdulillah sebelum Allah kemudian memanggilnya. Ia mungkin membaca sebuah hadits yang menyebutkan betapa besarnya pahala bagi yang mengantarkan hidayah. Lebih baik dari dunia dan isinya. Ia merasakan proses pncarian itu dan ia ingin mengantarkan orang yg dicintainya.

Pencarian Szilvia yang mendalam dan ditemani Jen. Adalah kisah penting untuk dituliskan.

Bersambung ke bagian selanjutnya..... Bukan Sekedar Cinta

Share this post :

Posting Komentar

Anda merasa mendapatkan KEBAIKAN dari postingan ini? SILAHKAN BERKOMENTAR secara santun, bijak, dan tidak menghakimi. TERIMAKASIH telah sudi meninggalkan komentar di sini. Semoga hidup Anda bermakna. amin...

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger