Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Home » , , » Sejarah (Singkatku di) SDIT Muhammadiyah al-Kautsar

Sejarah (Singkatku di) SDIT Muhammadiyah al-Kautsar

Written By Guru GO on 23 Maret 2010 | 14.40


Tak terasa sudah 6 tahun aku mengabdikan diri di SDIT Muhammadiyah al-Kautsar Gumpang Kartasura. Semuanya bagaikan mimpi, karena berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa kini aku sudah meninggalkan mereka semua. Mudah-mudahan semua amalku di sana tercatat dengan baik dan tidak akan terhapus. Amin ya mujibas sa'ilin.
 

Awalnya, enam tahun yang lalu, aku mengetahui ada sebuah SD yang berbasiskan IT dari M. Albani, S.Ag, teman kamarku di Masjid Syuhada Dregan Pabelan Kartasura Sukoharjo. Ia adalah adik tingkatku di Ma'had Abu Bakar Ash-Shiddeq Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sama-sama satu alumni dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Akh Albani Fakultas Tarbiyah '96 sedang aku Fakultas Adab '97. Waktu itu Albani sudah menjadi guru di SD Islam Sunan Kalijaga Baluwarti Solo. Sedangkan aku masih menganggur.
 

Meskipun sudah menjadi guru, Albani berkeinginan pindah sekolah karena merasa ide-idenya tidak tertampung di SD tersebut. Oleh karena itu ia sangat bersemangat ketika ada lowongan guru di SDIT Muhammadiyah al-Kautsar. Dia pun memasukkan lamarannya di hari pertama pembukaan. Albani lalu menyemangati aku untuk ikut mendaftar juga di SDIT Muhammadiyah al-Kautsar tersebut. Tetapi apa jawabku?


“Aku belum siap mandiri akh. Lagian nanti kalau sudah punya pekerjaan takutnya pengin segera menikah. Padahal dua kakakku belum menikah.”
 

“Ha...ha..ha.. Tidak apa-apa akh. Mendaftar saja. Toh pengalaman ditolak kan baik? Kita perlu belajar kecewa.”

***
Hari itu aku pergi ke kiosnya kang Qomar, kakak kelasku Ma'ahid dulu (angkatan '93) yang punya kios koran dan majalah di perempatan Pondok Assalaam Pabelan. Seperti biasa aku baca-baca koran, tabloid, dan majalah yang dipajang di sana. Ketika baca Solopos, aku terkejut karena pendaftaran lowongan guru SDIT al-Kautsar (waktu itu tidak ada kata-kata Muhammadiyah) dipersingkat. Dan hari itu (tanggal 03 Februari 2003) adalah hari terakhir pendaftaran. Kontan saja aku kelabakan.
 

Praktis hari itu aku pontang-panting mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk melengkapi syarat-syarat pendaftaran guru di sana. Sore harinya, aku izin dari Ma'had Abu Bakar Ash-Shiddieq UMS untuk memasukkan lamaranku. Pendaftaran dilakukan di rumah Bp. H. Soegito.
Aku masih ingat, waktu itu yang menerima berkas pendaftaranku adalah Bpk. (alm) Agus Suhari, MT. Beliau pun berkata,
 

“Ayo cepat-cepat, sejam lagi pendaftaran ditutup!”
 

Aku adalah pendaftar nomor 171. Sampai saat ini tanda tangan bapak (alm) Agus Suhari di formulir pendaftaran masih kusimpan. Aku pun  masih ingat, waktu itu aku bertanya pada bapak H. Soegito,
 

“Pak, dimana sekolahannya?”
 

“Oh, itu panjenengan masuk saja ke gang yang ada gapura hitamnya, lurus ke selatan sampai mentok dan belok ke kiri . Nanti ketemu ada bangunan baru yang belum jadi.” jawab beliau.
 

Aku pun menuruti kata beliau. Benar. Ada sebuah bangunan yang belum jadi (dan aku belum yakin apakah bisa jadi ataukah tidak) berhadapan dengan sebuah bangunan kuno yang bertuliskan “MI Muhammadiyah 6 Gumpang [1]” dan “Pimpinan Ranting Muhammadiyah Gumpang [2]”. Dalam hati timbul keraguan,
 

“Gek-gek nanti ada pembukaan dan sekaligus pelepasan murid baru?” begitu batinku membisik.
 

Dua minggu kemudian, aku mengikuti tes tulis. Bersamaku ada sekitar 200-an orang yang meramaikan bursa calon guru tersebut. Tes tulis diadakan di SD Negeri Gumpang 1 Kartasura. Yang sangat meyakinkan adalah seluruh panitia memakai pakaian rapi lengkap dengan dasi masing-masing. Hanya ada dua orang lelaki yang tidak memakai dasi waktu itu. Belakangan kutahu beliau bernama Bp. Sarjono (mantri kesehatan Puskesmas Pabelan) dan Bp. Janut Suwandi (guru SMPN 4 Solo yang datang dengan sedan membawa komputer, yang akhirnya menjadi pengurus BPH SDIT Muhammadiyah al-Kautsar dan tetangga baikku).
 

Alhamdulillah dari 200 orang yang mengikuti tes tersebut, aku masuk ke 20 besar. Pengambilan pengumuman di depan Masjid al-Kautsar (dulu masih bangunan yang kuno dan unik, tidak megah seperti sekarang). Aku masih ingat yang memberikan amplop pengumuman adalah saudara Waluyo. Jika yang lain membawa pulang amplop pengumumannya, aku langsung membukanya di situ. Karena memang aku sudah siap baik diterima maupun tidak. Dan alhamdulillah aku masuk 20 besar. Tes selanjutnya adalah wawancara agama, keguruan, bahasa inggris, dan komputer. Waktu kutanyakan tentang materi tes kepada seorang bapak yang hadir di situ, ia menjawab tidak tahu dan mengatakan bahwa ia bukan panitia. Padahal keesokan harinya saat tes wawancara, beliau ikut menjadi pewawancara. Belakangan kemudian kutahu dia juga menjadi anggota BPH.
 

Saat tes wawancara pun tiba. Yang menarik adalah satu-satunya yang naik sepeda onthel [3] waktu itu adalah aku. Padahal saat tes tulis sebelumnya ada 3 orang yang naik sepeda onthel. Aku adalah orang yang paling terakhir dites sehingga peserta yang pulang paling terakhir.
 

Oh iya. Sebenarnya M. Albani juga masuk 20 besar, tetapi ketika ia minta ijin kepada Yayasan Pendidikan Islam Sunan Kalijaga untuk ikut tes di al-Kautsar, ia tidak diberi ijin. Padahal aku yakin, seandainya ia diberi ijin ialah yang diterima, bukan aku. Inilah yang namanya takdir.
 

Setelah menunggu dalam waktu yang cukup lama, akhirnya tibalah surat itu  di Masjid Syuhada' Dregan Pabelan. Kubuka surat itu dengan hati berdebar. Dan sungguh tidak bisa kupercaya, AKU DITERIMA sebagai guru di SDIT Muhammadiyah al-Kautsar [4]. Serta merta kucium karpet Masjid Syuhada' yang sedikit kasar itu.

***
Pagi itu aku datang ke TK Aisyiyah 1 Gumpang dalam rangka pertemuan antara guru baru yang diterima dengan panitia penerimaan guru baru SDIT Muhammadiyah al-Kautsar. Ternyata yang diterima sebagai guru ada 3 orang. Satu lelaki dan dua orang wanita. Dua wanita itu adalah Dani Apriani, ST dan Bintari Nur Hayati, SE. Bu Dani adalah  lulusan STT Telkom Bandung tahun 2000 dan Bu Bintari adalah lulusan UNS tahun 2000 pula. Selain kami ada lagi tiga nama guru yang diterima sebagai cadangan. Aku tidak tahu nama-nama mereka selain istrinya bapak Fauzi yang menjadi cadangan ke-6.
 

Dan perjuangan pun dimulai. Dua orang wanita yang diterima bersamaku mulai bimbang dengan keberadaan kami. Apakah sekolah ini bisa hidup dan diteruskan ataukah cukup sampai di sini? Tidak berapa lama kemudian, Dani memutuskan mundur dan memilih mengajar di SDIT Nur Hidayah. Karena memang sebelumnya dia mengajar di sana sebagai guru ekstra komputer. Adapun Bintari memutuskan untuk mundur karena ikut tes di Bank Indonesia. Dan akhirnya ia pun diterima sebagai pegawai Bank Indonesia. Saat ini ia bertugas di Batam.[5]
 

Kehilangan dua orang srikandi tidak membuat para pengurus patah arang. Mereka pun memanggil cadangan-cadangan berikutnya. Cadangan demi cadangan dipanggil, tetapi tidak ada hasil. Macam-macam alasannya. Ada yang karena ikut suami di luar kota. Ada yang karena sudah diterima di lembaga lain. Cadangan yang sanggup menjawab tantangan ini adalah bu Fauzi. Dengan alasan kasihan dengan aku yang mengerjakan apa-apa sendirian. Bu Fauzi hanya bisa “menemani” aku saat pendaftaran murid baru saja dan tidak bisa ikut mengajar. Hal ini dikarenakan beliau sedang hamil.[6]

***
Pendaftaran murid baru sudah selesai. Tetapi tidak ada yang mendaftar. Meskipun dua gelombang sudah dibuka. Aku masih ingat, murid yang pertama kali mendaftar adalah Nasyith Afifuddin Zain putra dari Bp. Sirodjuddin, S.Ag, yang waktu itu masih menjadi guru di TK Islam Unggulan al-Khoir Solo. Murid kedua adalah Yahya Abdul Matin, putra dari Bp. Drs. Amir Mahmud, dosen UMS (yang kemudian mengambil S2 dan S3 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
 

Tahun pelajaran hampir dimulai, tetapi baru tercatat ada 9 siswa yang mendaftar. 6 laki-laki dan 3 perempuan. Mereka adalah Albab, Nico, Nasyith, Fajar, Yahya, Mahmud, Lia, Khusnul, dan Dhabith. Untuk Dhabith ini aku sangat kagum dengan ibunya. Ketika ibunya kutanya, mengapa mendaftarkan anaknya di SD yang belum jelas masa depannya ini, ia menjawab:
 

“Saya pingin ngurip-nguripi Muhammadiyah pak. Lha kalau bukan kita, siapa lagi yang mau ngurip-nguripi Muhammadiyah?”
 

Ada pula yang ketika mendaftar banyak sekali pertanyaannya, yakni Bp. Raharjanto, bapaknya Fajar. Ia “menginterogasi” saya dari A sampai Z. Dari meragukan kemampuan saya yang akan menjadi guru di sini tetapi belum punya pengalaman mengajar, sampai nanti output anaknya mau dibawa kemana. Terus terang jawaban saya waktu itu sekenanya saja. Karena saya sendiri tidak yakin bisa mengajar apa tidak. Satu yang saya yakin, Alloh tidak mungkin meninggalkan orang-orang yang punya niatan suci ini.
 

Dengan 'interogasi' itu, aku yakin Fajar tidak akan mendaftar di sini, karena dari awal sudah meragukan kredibilitas sekolah. Tapi anehnya, ternyata keesokan harinya Fajar datang lagi dan mendaftar sebagai murid. Ternyata kekuasaan Alloh sudah berbicara.
 

Lain Pak Raharjanto, lain pula pak Amir, abinya Yahya. Ketika hendak mendaftarkan Yahya, beliau mengetes saya dengan nama-nama tokoh Muhammadiyah di daerah Kartasura dan sekitarnya. Saya pun tidak bisa menjawab pertanyaan beliau. Karena saat itu saya memang belum berkeluarga dan belum bermasyarakat. Sampai-sampai beliau berkata:
 

“Ente orang Muhammadiyah apa bukan? Masak tokoh-tokoh Muhamadiyah Kartasura tidak kenal?”
 

Coba kalau pertanyaan itu dilontarkan sekarang, saya pasti bisa menjawab semuanya. Insya' Alloh.
Melihat kondisi yang sangat memperihatinkan ini pengurus hampir-hampir kehilangan semangat untuk meneruskan cita-cita mulia ini. Cita-cita mendidik generasi yang tidak hanya solih tetapi juga smart. Sampai-sampai saya pun dimintai pendapat. Tentang kesanggupan saya mengajar di sini. Saya masih ingat waktu itu dengan PeDenya menjawab:
 

“Pak, meskipun hanya ada satu orang murid saja yang mendaftar, saya akan tetap mengajar!”
 

Saya sendiri kaget kenapa bisa berkata-kata seperti itu. Dari mana kalimat itu keluar? Tapi alhamdulillah akhirnya pengurus mulai memungut lagi satu per satu semangat yang sudah mulai berguguran. Dipanggillah seorang guru untuk 'mendampingi' saya. Dia adalah Bu Heni Daryati, S.Si, seorang alumnus FMIPA UNS Jurusan Biologi. Bu Heni datang dengan diantar mobil oleh suaminya. Kembalilah saya ragu. Kalau datang saja naik mobil, apakah ia mau mengajar di sini dengan gaji yang sangat kecil? Tetapi perkiraan saya meleset. Bu Heni dengan setia mendampingi kami ikut melanjutkan perjuangan mulia ini. (bersambung). guruGO.blogspot.com



-------------------------

[1]
-->MI inilah yang akhirnya diruntuhkan untuk dijadikan SDIT karena muridnya yang habis serta guru-guru yang semangat mengajarnya mulai terkikis. Guru-guru MI Muhammadiyah 6 ini rata-rata adalah PNS. Sebagaimana guru PNS pada umumnya, ngajar atau tidak mereka tetap dapat gaji  dari negara. Jadi lebih enak jika muridnya habis sehingga tugas mereka ringan, tetapi gajinya tetap.  Hanya ada dua orang guru yang wiyata di MI ini. Mereka adalah Bp. Sudadi, yang menjadi buron peristiwa Bom Bali dan Bp. Arif, yang sekarang menjadi guru di MI Muhamamdiyah Standar Kartasura.

[2]
-->Ini kantor Ranting Muhammadiyah Gumpang yang lama. Setelah itu sekretariatnya pindah ke Musholla Baiturrahman Perum Gumpang Baru. Ketua Ranting saat itu masih dijabat oleh Bp. Muh. Muhtarom, BA sekarang sudah dijabat oleh Bp. Ahmad Bakri Royani, S.Ag

[3]
-->Sepeda onthel teman setiaku yang telah menemaniku sejak aku duduk di bangku Madrasah Aliyah Ma'ahid Kudus. Ia juga pernah kuajak menempuh perjalanan Jogja-Solo dengan waktu tempuh 4 jam. Ia adalah Sepeda Jengki yang pertama-tama dimiliki oleh Ayahku dan kemudian dihibahkan kepadaku. Berarti umurnya sampai sekarang kurang lebih 15 tahun dengan kondisi yang masih prima karena belum ada satupun onderdil yang diganti, kecuali tutup sedel, tali rem, dan pentil.

[4]
-->Sayang sekali surat (tertanggal 03-03-03) pemberitahuan diterima sebagai guru ini setelah kucari-cari belum juga ketemu. Tanggal cantik ini mungkin bisa dipakai sebagai HARI JADI SDIT Muhammadiyah al-Kautsar.

[5]
-->Untuk Dani, aku tidak lagi berhubungan setelah ia mundur dari SDIT Muhammadiyah al-Kautsar. Sedangkan dengan Bintari aku masih punya kontak. Terkadang lewat E-mail dan terkadang lewat HP. Dia bahkan meminta aku untuk mengirim buku-buku hasil karyaku ke Batam dan membayar dengan uang yang cukup banyak.

[6]
-->Hal ini kemudian menjadi perselisihan pemahaman. Pengurus menganggap Bu Fauzi mundur dan tidak berminat lagi sebagai guru. Tetapi Bu Fauzi menganggap ia tidak mundur, tetapi hanya cuti hamil. Padahal waktu itu pengurus belum memiliki draft pengaturan cuti hamil bagi guru dan karyawan. Solusinya adalah Bu Fauzi diberi kesempatan lagi untuk mengikuti tes penerimaan guru baru (meskipun dari segi umur tidak sesuai dengan syarat, tapi diberi toleransi). Dan karena tidak memenuhi kualifikasi beliau pun tidak diterima sebagai guru.
Share this post :

+ Komentar + 9 Komentar

17 Juli 2010 pukul 16.13

mengharukan.... T_T

23 Juli 2010 pukul 16.41

Maturnuwun om koment-nya. Semua tinggal kenangan. Untuk cerita anak cucu...

28 Maret 2011 pukul 11.05

ohhhh so sweet good struggle brotha salut n coklut dah ane baca.....zippp...ziip

28 Maret 2011 pukul 21.23

good struggle brotha....salut n coklut ane baca ni crita ziiip...zzziipp

Layla Alfiyyatur R
6 Mei 2011 pukul 13.37

pengalaman pak muhsin memang "is The Best" q salut ma pak muhsin!!!!!!!!!q bangga jd muridnya pak muhsin........q tdk nyangka klau pengalaman itu dpt berkesan utk q.......SDIT muhammadiyah Al-Kautsar School yg TOP BGT dpt menerbitkan penerus Bangsa yg jd TOP BGT........zszsiiiipp deh pokok nya.......

21 Mei 2011 pukul 12.46

@dimas: makasih, biasalah kalo yg pertama emang harus berjuang demikian.
@Layla: Bangga bisa menjadi gurumu dan teman2mu. Moga ilmu yg p muhsin sampekan bermanfaat. AMinnn

23 Mei 2012 pukul 14.30

Luar biasa pak muhsin, saya bangga ketika bisa menjadi keluarga besar SDIT Muhammadiyah Al-Kautsar.

17 Oktober 2012 pukul 09.04

Ya pak heru, sy titipkan SDIT Muhammadiyah al-Kautsar kepadamu.... hehehe...

29 Agustus 2019 pukul 14.24

ingin belajar pengalaman di SDIT MUHAMMADIYAH ALKAUTSAR Dari kami dewan guru SDIT MUHAMMADIYAH MANGGENG Kab. Aceh Barat Daya

Posting Komentar

Anda merasa mendapatkan KEBAIKAN dari postingan ini? SILAHKAN BERKOMENTAR secara santun, bijak, dan tidak menghakimi. TERIMAKASIH telah sudi meninggalkan komentar di sini. Semoga hidup Anda bermakna. amin...

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger