Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Saya adalah saya. Bukan ayah saya. Bukan pula anak saya. Saya jangan dihargai karena 'pangkat' ayah saya. Saya juga jangan 'disamakan' dengan anak saya. Akuilah saya apa adanya.

Selamat Datang di Blog Saya, Ahlan Wa Sahlan Bihudzurikum.

Semoga blog ini bermanfaat untuk Anda. Apa hal positif dari Blog ini beritahu teman. Jika ada ada yang kurang beritahu saya agar saya bisa memperbaikinya. Boleh Copas asalkan mencantumkan alamat blog ini. Jazakumullah
Saya sangat berterima kasih Anda sudah berkunjung ke blog saya. Lebih berterima kasih lagi jika Anda meninggalkan komentar pada postingan saya baik berupa koreksi, persetujuan, maupun tambahan ilmu buat saya.
Jika Anda merasa puas dengan blog ini tolong beritahu teman atau saudara agar blog ini bisa lebih dikenal luas dan anda pun Insya' Alloh akan mendapatkan pahala karena menyebarkan kebaikan. Tetapi jika Anda tidak puas tolong beritahu saya. Maturnuwun. Terimakasih. Jazakumulloh khoiral jaza'

Google+ Followers

Kids Zaman Now dan Kids Zaman Semono


Metode mendidik anak dalam ajaran Islam sebenarnya tidak banyak mengalami perubahan. Dari sejak zaman Nabi Muhammad dan sampai Kiamat sekali pun. Mengapa saya katakan demikian? Karena kita sesungguhnya hidup di zaman yang sama, yaitu zaman akhir. Rasul junjungan kita pun sudah menegaskan bahwa beliau adalah Rasul akhirnya zaman. Diutusnya beliau adalah juga merupakan salah satu tanda bahwa zaman hampir finish. Sehingga apa saja yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita berupa pendidikan adalah sama dengan apa yang dulu kita dapatkan dari orangtua kita.

Kata kunci yang dapat kita pegang dalam mendidik anak dalam kurun ini adalah hadits Nabi SAW tentang fitnah akhir zaman yang akan menimpa ummat beliau. Ada banyak riwayat yang menerangkan tentang peringatan Rasûlullâh akan datangnya beberapa fitnah di akhir zaman. Tugas kita selaku orang tua maupun pendidik adalah memberi bekal agar generasi yang akan datang mampu menghadapi fitnah-fitnah tersebut. Dan bekal-bekal tersebut (yang kesemuanya sudah disampaikan oleh Nabi SAW) sudah pula diajarkan oleh guru-guru kita dan juga orangtua kita dulu.

Dari kata kunci tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa apa pun generasi yang ada dan dengan bentuk seperti apa pun mestinya harus tunduk dengan ajaran Islam. Singkatnya, zamanlah yang harus tunduk kepada ajaran Islam, bukan ajaran Islam yang direvisi demi mengadopsi perubahan zaman. Kata almarhum ustadz Zainuddin MZ: “Dimana-mana kayu harus mengikuti meteran, jika kayu kepanjangan maka kayu harus dipotong. Jadi bukan meteran yang mengikuti kayu, sehingga jika kayu tidak sesuai justru meteran yang dipotong.”

Demikian pula dengan istilah Kids Zaman Now yang sedang populer ini. Istilah ini akan menjadi aneh ketika dimaknai bahwa kita harus merubah konten pendidikan yang akan kita ajarkan kepada anak-anak kita karena mengikuti tren mereka atau mengikuti nilai-nilai yang sedang merambah generasi muda ini. Seolah kita harus tunduk dan menundukkan ajaran Islam demi menerima generasi kids zaman now tersebut. Namun istilah tersebut tidak menjadi masalah jika yang kita modifikasi adalah metodenya saja. Ini perlu kita tekankan karena banyak masyarakat yang menganggap bahwa dikarenakan generasi Kids Zaman Now ini maka nilai-nilai harus berubah. Ini tidak benar.

Misalnya, pacaran. Sejak zaman dulu sampai zaman kapan pun akan tetap haram hukumnya karena pacaran itu adalah perbuatan yang mendekati zina. Maka, aktivitas apa pun yang mendekati zina dilarang dalam Islam. Jangan karena alasan Kids Zaman Now lalu pacaran menjadi halal. Inilah yang tidak dimengerti oleh sebagian orangtua maupun pendidik. Sehingga mereka pun memberikan lampu hijau pada aktivitas ini. Jamak kali kita dengar kalimat: “Sudahlah, biarkanlah mereka. Maklum anak zaman sekarang!”, atau kalimat: “Ah, bapak-ibu seperti tidak pernah mengalami masa muda saja”. Hal ini tentu saja tidak bisa kita biarkan.

Zaman boleh berubah, tetapi ajaran Islam dan nilai-nilai luhurnya harus tetap sama persis. Bukankah al-Qur’an yang kita baca sekarang juga masih sama dengan al-Qur’an yang diturunkan di zaman nabi dulu? Demikian pula cara kita menafsirkan al-Qur’an mestinya juga tidak jauh beda dengan bagaimana yang dipahami oleh Rasul dan para shahabat zaman dulu. Ayat-ayat yang terbuka penafsirannya adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengapa? Karena ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berubah dan berkembang.

Nah, metode pendidikan yang kita terapkan kepada anak-anak kita mestinya juga mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kids zaman now adalah generasi yang sangat akrab dengan gadget. Mereka tidak pernah lepas dan berpisah sedetik pun dengan benda modern ini. Nah, kita sebagai orangtua maupun pendidik bertugas mengarahkan penggunaan gadget tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat dan bernilai.

Gadget adalah sekedar alat. Sesuai dengan kaidah usul fiqh, bahwa sebuah alat tidak bisa dihukumi halal atau haram. Yang halal atau haram adalah penggunaannya. Sebilah pisau jika dipakai untuk memasak maka hukumnya halal, tetapi jika dipakai untuk membunuh tanpa haq maka haram hukumnya. Demikian pula dengan gadget; jika hanya dipakai untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan melalaikan maka hukumnya makruh. Jika dipakai untuk bermaksiat maka haram hukumnya. Namun jika dipakai untuk menyebarkan kebaikan dan nilai-nilai Islam maka halal hukumnya.

Oleh karena itu, kita selaku orangtua atau pendidik tidak bisa mengasingkan gadget ini dari anak-anak kita. Orangtua atau pendidik justru harus mengenalkan perangkat modern ini kepada mereka, tentu saja plus kegunaan positif yang dapat kita ajarkan kepada mereka. Menjauhkan gadget dari anak-anak bukanlah solusi. Hal ini justru lebih berbahaya karena mereka akan mengenal gadget dari teman-teman mereka. Ya kalau kebetulan mereka bertemu dengan teman yang baik. Jika mereka bertemu dengan teman yang salah, maka petakalah yang akan terjadi.

Kids Zaman Semono
Jika saat ini sedang populer dengan istilah kids zaman now, maka sebenarnya ada generasi lain yang perlu mendapat perhatian kita, yaitu generasi zaman dulu, saya menyebutnya dengan istilah kids zaman semono[1]. Dimana zaman itu masih “lebih bersih” dari zaman sekarang. Merekalah yang saat ini telah menjadi orangtua dan para pendidik yang sedang diuji untuk mengarahkan anak-anak mereka yaitu kids zaman now.

Perbedaan mendasar kedua zaman itu adalah pada perubahan kecanggihan teknologi. Misalnya perubahan atau perkembangan teknologi handphone. Dulu, HP hanya berfungsi untuk SMS dan telepon saja. Namun sekarang HP sudah memiliki fungsi yang sangat beragam. Dulu untuk bersosial atau berhubungan dengan orang lain kita harus menempuh jarak yang kadang melelahkan. Namun sekarang kita bisa berkomunikasi jarak jauh plus dapat melihat penampakan lawan bicara kita lewat video call.

Melihat perbedaan teknologi itu maka kids zaman semono harus mampu mengikuti perkembangan yang ada. Mereka tidak boleh gaptek (gagap teknologi). Mereka harus up to date agar tidak mudah dikibuli oleh anak-anak mereka. Jika kids zaman now akrab dengan media sosial semisal twitter, whatsapp, instagram, facebook, dan lain-lain maka kids zaman semono pun mau tak mau harus mengikuti itu.

Bagaimana kita bisa mengecek akhlaq anak-anak kita di media sosial jika kita sendiri tidak memiliki akun media sosial? Bagaimana kita bisa mengarahkan penggunaan gadget jika kita sendiri gagap teknologi? Maka kita musti belajar banyak tentang perkembangan teknologi. Kita tidak boleh kalah dengan anak-anak kita dalam memanfaatkan teknologi. Syukur-syukur jika kita lebih pandai dan lebih mahir dari mereka, sehingga kita menjadi rujukan atau tempat bertanya anak-anak kita.

Jadi meskipun kita adalah generasi kids zaman semono tetapi kita tetap mampu hidup dan bersaing di zaman kids zaman now. Ringkasnya, kita harus mampu menjalani kehidupan dengan tetap menjalankan nilai-nilai Islam meskipun zaman berubah pesat. Dalam bahasa agamanya, Islam itu shalih likulli zamanin wa makanin. Islam itu cocok untuk zaman seperti apa pun dan tempat seperti apa pun jua. @muhsinsunym

[1] Kata “semono” adalah kosa kata bahasa jawa yang artinya waktu itu. Biasa dipakai untuk menunjukkan zaman dahulu. Zaman semono = zaman dahulu, bukan zaman sekarang.



CURRICULUM VITAE
NAMA : MUHSIN SM
T T L : KUDUS, 02 OKTOBER 1978
PEKERJAAN : GURU DI SD IT SALMAN AL-FARISI PATI
ALAMAT : PERUM TAYLON SEJAHTERA DESA TAYU KULON KECAMATAN TAYU KABUPATEN PATI JAWA TENGAH.
EMAIL : muhsinsuny@gmail.com
Web Blog: gurugo.blogspot.com

Sumber: http://jsit-indonesia.com/2017/12/07/kids-zaman-now-dan-kids-zaman-semono/

Pembelajaran Terpadu dan Inovatif Solusi Mendidik diI Era ‘Kids Zaman Now'



Kids Zaman Now adalah generasi millennial, generasi yang mengisi 20-25% dari total penduduk Indonesia. Generasi ini bebas dan tak mau terikat pada suatu hal atau terkekang.  Bak burung mereka akan terbang dan singgah sebentar di sebuah sarang yang dianggap nyaman, dan kemudian terbang lagi mencari kenyamanan baru. Mereka sangat terhubung dengan dunia khususnya sosial media, dan sangat akrab dengan perubahan teknologi digital, sehingga membuat mereka sangat cepat menerima perubahan. Generasi nongkrong ini juga lebih suka kolaborasi daripada bersaing, lebih suka bekerja sebagai team, bahkan tak segan  sambil nongkrong sambil kerja, supaya relax dan fun, mal-mal yang penuh café adalah ruang kerja kebebasan mereka. Kids Zaman Now memang berbeda, sambil ngafe mereka kerja, sambil kerja mereka youtube, dan main game mobile legend, luar biasa, pulsa dan data bukan persoalan lagi, karena mereka telah berpindah dari basic need_ke psychology need (Abraham Maslow Triangle)

Sebagai orang yang terlibat dalam dunia pendidikan, perlu ada perhatian sekaligus solusi sehingga tidak salah memperlakukan generasi ini. Terutama dengan memahami peran masing-masing sebagai orang yang terlibat dalam bidang pendidikan. Selanjutnya akan dibahas peran orang tua dan guru dalam mendidik generasi zaman now.

Peran sebagai orang tua; Syaikh Jamal A. dalam Islamic Parenting menyampaikan Beberapa hal yang dibutuhkan ibu dan ayah dalam mendidik anak-anak mereka:
  • Memahami bahwa pendidikan adalah taufik (karunia) dan hidayah (petunjuk) dari Allah SWT, meskipun manusia berusaha untuk menjaga hidayah anak-anaknya, namun Al-qur’an mengingatkan agar kita selalu berdo’a sebagaimana terdapat dalam (Q.S Al-Furqan : 74) ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
  • Memahami bahwa zaman adalah bagian dari ilaj (terapi). Dengan berputarnya zaman, dan potensi dikerahkan, maka hasilnya akan nampak, sesungguhnya ilmu diperoleh itu dengan belajar.
  • Memahami sarana pendidikan dan caranya, baik itu melalui situs-situs internet atau mengenal pendapat-pendapat pakan sosial dan psikolog.
Secara khusus peran orang tua dalam mendidik anak-anak mereka, diantaranya:
  • Menanamkan kecintaan kepada nabi, keluarga, dan sahabatnya, serta kecintaan kepada Al-qur’an.
Mendidik generasi kids zaman now harus senantiasa diingatkan bahwa kita, punya tauladan Robbani, sehingga terhindar dari kekosongan jiwa.
  • Menganjurkan anak untuk meraih keuntungan sejak pagi buta, dengan shalat fajar berjama’ah dan duduk berdzikir kepada Allah.
  • Mendukung anak untuk menekuni bidang keahlian sesuai dengan bakatnya. Ibnul Qoyyim telah mengatakan bahwa diantara aspek yang harus diperhatikan oleh orang tua, ialah memperhatikan kondisi sang anak dan bidang yang sesuai dengan bakatnya sampai benar-benar diketahui bahwa sang anak memang berbakat dalam bidang itu.
  • Mengukuhkan hak anak untuk menuntut ilmu. Penuntut ilmu berhak memperoleh permohonan ampunan dari semua makhluk setiap kali ia pergi atau pulang dari menuntut ilmu karena merasa ridho dengan apa yang telah diperbuatnya.
  • Menananmkan sikap mandiri dan bekerja keras
Orang yang paling baik kesudahannya adalah orang yang paling lelah (Ibnu Qoyyim)
  • Memilih guru yang sholeh
Peran Guru: Pertama, Wahai guru engkau adalah penyeru (da’i)
“ Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manuasia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (Q.S. Al Imran :10)
Dalam Risalah Da’wah ( Majmu’atur Rasail, Imam Syahid Hasan Al Banna) mengingatkan bagaimana menjadi da’i di zaman modern ini yaitu dengan menjelaskan ketentuan-ketentuan Islam kepada umat manusia dengan penjelasan yang gamblang dan sempurna tanpa tambahan, pengurangan, dan kerancuan. Kemudian kita meminta mereka untuk merealisasikannya, mengkondisikan mereka, dan membimbing mereka untuk mengamalkannya.

Kedua, Guru berusaha menerapkan konsep pendidikan yang menumbuhkan
Pidato Bapak Anies Rasyid Baswedan mantan Menteri Pendidikan yang sekarang menjabat sebagai gubernur Jakarta pada tanggal 29 Oktober 2017 dalam acara Education Ekspo ASESI ( Assosiasi Sekolah Sunnah Indonesia), mengingatkan kepada kita sebagai guru untuk memahami bahwa pendidikan adalah tentang menyiapkan generasi baru. Pendidikan bukanlah membentuk, tapi pendidikan adalah menumbuhkan, sehingga hal yang fundamental yang dibutuhkan adalah tanah yang subur dan iklim yang baik. Karena itu, ketika kita berbicara tentang pendidikan, bayangkan seperti kita menumbuhkan biji. Bagaimana kita berusaha untuk mengelola sebuah rekayasa pendidikan dan merangsang siswa sesuai skenario yang kita buat agar biji tersebut tumbuh dengan baik.

Ketiga,  Guru memahami kewajiban kepada murid
Guru zaman dahulu hingga kini zaman now mempunyai kewajiban yang harus di pahami dan diaplikasikan, diantaranya:
  • Berniat hanya karena Allah SWT, dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya
  • Sayang kepada murid-muridnya dan memperlakukan mereka layaknya anak-anak sendiri, seperti yang sudah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW.
  • Tidak segan-segan untuk memberi nasihat kepada murid
  • Dalam memberikan pelajaran, guru berusaha menyesuaikan dengan kemampuan daya tangkap para murid dan berbicara kepada mereka sesuai dengan tingkat kecerdasannya.
Keempat, berusaha menjadi guru inovatif dan produktif
Guru adalah pekerjaan yang berbeda dengan profesi lainnya. Setiap hari perannya mengisi jiwa-jiwa kosong untuk dibentuk dengan memberi pengaruh positif pada perkembangan psikis dan motorik siswanya. Guru bisa menyebabkan siswa senang atau tidak senang, semangat atau tidak semangat, kreatif atau tidak kreatif, inovatif atau tidak inovatif, produktif atau tidak produktif. Begitu besar pengaruh guru terhadap kejiwaan siswanya, maka seorang guru harus mencintai profesinya agar bisa membentuk kepribadian yang baik, dinamis, kreatif, inovatif, dan produktif.
Guru inovatif akan mengetahui kebutuhan siswa di zamannya, siap menerima perubahan yang mengenakkan atau perubahan yang tidak mengenakkan dirinya, selalu ada ide dalam setiap proses pembelajaran yang dia buat.

Guru harus berusaha produktif (menghasilkan karya) untuk menunjang keberhasilan dan pembentukan sikap siswa. Mendidik siswa menjadi kreatif sudah menjadi tanggung jawab guru terhadap siswa yang hidup di zaman now ini. Guru inovatif dan produktif sangat dinantikan oleh siswanya karena siswa di zaman now senantisa membutuhkan hal yang menantang dan tidak membosankan. Pembelajaran inovatif berbasis making perlu sering dilakukan oleh guru, agar kebutuhan  siswa di zaman ini bisa terakomodasi. Siswa senantiasa digiring untuk mengeksplorasikan ide-ide yang senantiasa memenuhi jiwanya. Guru di zaman ini harus mengedepankan proses pembelajaran yang melibatkan akal dan fisik secara serempak, karena menurut teori pendidikan modern, proses belajar tidak akan benar dan sempurna jika hal itu tidak terjadi. Bahkan dengan “memanfaatkan” kreatifitas siswa di zaman now, terutama dalam hal teknologi, seorang guru bisa banyak mendapatkan pengetahuan tertentu dari siswanya.

Kelima, Guru Menerapkan Standar Kurikulum Islam Terpadu
Sekolah Islam Terpadu adalah sekolah yang mencoba menerapkan pendekatan penyelenggaraan yang memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu jalinan kurikulum. Sekolah Islam Terpadu menekankan keterpaduan dalam metode pembelajaran sehingga dapat mengoptimalkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Implikasi dari keterpaduan ini menuntut pengembangan pendekatan proses pembelajaran yang kaya, variatif, dan menggunakan media serta sumber belajar yang luas.

Guru Sekolah Islam Terpadu senantisa berusaha memahami dan menerapkan prinsip-prinsip yang  melandasi penyusunan kurikulum, Ibnu Khaldun (1332 – 1406) dalam Standar Mutu SIT mengungkapkan beberapa prinsip yang melandasi kurikulum, yaitu: Prinsip al-Takamul (Integritas), at-Tawazun (keseimbangan), as-Syumul (menyeluruh), prinsip orientasi pada tujuan, prinsip al-ittisal ( Kontinuitas), prinsip sinkronisasi, prinsip relevansi, prinsip efisiensi, dan prinsip efektifitas. Pada masa kini dan mendatang, kebutuhan akan ilmu tidak dapat diingkari sebagai alat atau senjata untuk menghadapai berbagai tantangan kehidupan. Guru harus senantiasa berusaha menerapkan, dan mengembangkan metode pembelajaran untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar. Setiap guru Sekolah Islam Terpadu seharusnya selalu menyadari bahwa misi pendidikan islam adalah senantiasa melakukan perubahan, yaitu mengubah kehidupan umat manusia sehingga sejalan dengan tuntutan islam.

Guru Sekolah Islam Terpadu sangat yakin bahwa penerapan konsep pembelajaran terpadu adalah solusi untuk menjawab tantangan  di zaman ini. Merealisasikan pembelajaran terpadu perlu persiapan, mulai dari merancang hingga melaporkan hasilnya. Persiapan meliputi bagaimana seorang guru berfikir dan bekerja keras dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Terpadu, mulai dari menentukan indikator spritual, pengetahuan, keterampilan  dan sikap. Selanjutnya di Tela’ah, kegiatan pembelajaran apa yang sesuai, lalu bagaimana siswa mampu mengemukakan ide-ide cemerlangnya (Eksplorasi), siswa mampu merumuskan ide-ide yang diharapkan dalam indikator pengetahuan dan sekaligus mampu mempresentasikannya kepada orang lain, dan yang sangat pentingnya bagaimana siswa mampu mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan dunia dan berguna untuk kehidupan akhiratnya kelak. Guru Sekolah Islam Terpadu sadar bahwa menerapkan konsep pembelajaran terpadu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses pembelajaran yang dilakukan butuh pengorbanan baik tenaga, waktu, dan dana yang tidak sedikit.

Kegiatan atau media pembelajaran yang dibuat haruslah berorientasi untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, berusaha membuat materi abstrak menjadi konkrit, mengeksplorasi kompetensi siswa, dan pembentukan akhlak yang islami. Bahkan tidak jarang seorang guru Sekolah Islam Terpadu rela melakukan proses pembelajaran yang menuntut perjalanan (fieldtrip) ke daerah yang membutuhkan waktu perjalanan  dan jarak tempuh yang cukup jauh, berupa perkampungan, perkebunan, hutan, dan perkotaan, dengan harapan  proses pembelajaran terpadu bisa diterapkan dengan semaksimal mungkin.

Penerapan konsep Sekolah Islam Terpadu juga tidak bisa terlepas dari kegiatan Tarbiyah Islamiyah yang berkesinambungan bagi setiap orang yang terlibat didalamnya, karena setiap guru Sekolah Islam Terpadu adalah da’i, karena Imam Syahid Hasan Al Banna sudah mengingatkan bahwa da’wah kita adalah da’wah dimana pemahaman para da’i yang senantiasa terbingkai oleh kitab Allah SWT, Sunnah Rasulullah saw, dan sejarah generasi muslim terdahulu. Guru Sekolah Islam Terpadu yakin dengan pertolongan Allah SWT, kita diberi kemudahan dalam mendidik generasi Zaman Now sekarang dan di masa depan.

Oleh karena itu penerapan kurikulum pembelajaran terpadu dan berusaha menjadi guru yang inovatif, dapat memberikan solusi dalam mendidik generasi Kids Zaman Now.



CURICULUM VITAE (CV)
Nama  :    Yurneli, S,Si
Tempat, Tanggal Lahir :    Rantau Bais (Riau) 28 Maret 1979
Pekerjaan :    Guru
Bidang Studi :    Biologi
Email:    yurneli79@gmail.com
Nama Sekolah :    SMA IT Al Fityah Pekanbaru
Alamat Sekolah :    JL. Swakarya Ujung Kel. Tuah karya, Kec. Tampan, Pekanbaru, Riau. Kode Pos : 28292

Sumber:  http://jsit-indonesia.com/#

Menjadi Guru di Era Kids Zaman Now





Beberapa dekade lalu, kita berada di era reformasi, orde baru, atau bahkan ada yang pernah mencicipi era orde lama. Masing-masing dengan keunikan dan karakteristik sendiri-sendiri, terutama apabila ditinjau dari perkembangan teknologi. Bumi berputar dan waktu terus berjalan. Masa berganti, musim telah berubah. Maka tibalah saat kita berjumpa dengan era revolusi informasi. Sebuah era di mana informasi memiliki peran penting dan menjadi kunci pada setiap pengambilan keputusan. Era yang mencerminkan  tingginya tingkat ketergantungan manusia terhadap teknologi informasi. Dan dari  era inilah lahir Generasi Z, atau yang sekarang terkenal dengan Kids Zaman Now.

Kids Zaman Now – sebuah istilah yang sebenarnya menabrak aturan berbahasa Indonesia yang baik dan benar – adalah anak-anak yang lahir di zaman revolusi informasi. Mereka adalah digital natives, sejak lahir sudah berinteraksi dengan alat digital berupa gawai. Karenanya, mereka mudah beradaptasi dengan perubahan teknologi dan mampu mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat. Dan anak-anak yang lahir  pada masa yang nyaris bersamaan, otomatis mereka saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama.

Kemajuan yang sangat pesat di bidang teknologi informasi ini diperkirakan akan terus meningkat pada masa yang akan datang. Allied Business Intelligent (ABI) Research memperkirakan pada tahun 2020 akan ada lebih dari 30 miliar perangkat yang terhubung secara nirkabel (Malang Post, 19 Mei 2016). Ke depan, internet akan semakin mengubah pola hidup manusia, khususnya yang saat ini masih menjadi bagian dari Kids Zaman Now. Segala aktivitas akan banyak dilakukan dengan menggunakan internet secara online.

Perkembangan teknologi ini tentu berpengaruh pada segala aspek kehidupan manusia, mulai dari ekonomi, sosial, politik, termasuk pada dunia pendidikan. Bahkan, boleh dikatakan, imbas kemajuan teknologi informasi terhadap dunia pendidikan sangat besar. Pola pendidikan yang pernah diterapkan pada dekade sebelumnya mungkin saat ini sudah usang, dan ketinggalan zaman. Pendekatan, metode, model, strategi, media, atau apapun namanya yang dulu pernah diagung-agungkan atau pernah menjadi praktik terbaik, sebagian sudah tidak relevan lagi untuk diaplikasikan pada era Kids Zaman Now. Karena itu, perubahan pada dunia pendidikan menjadi suatu keniscayaan. Guru sebagai pelaku utama pendidikan harus ikut pula menjadi bagian dari perubahan tersebut, karena perubahan pola pendidikan tidak akan ada artinya tanpa dukungan dari para pelakunya.

Bagaimana Mendidiknya
“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena ia hidup bukan di zamanmu”
Perkataan yang diucapkan oleh sahabat Ali Bin Abi Thalib ra ini sangat penting untuk kita jadikan acuan dalam mendidik anak. Kita tidak bisa memaksa anak untuk mengikuti model lama yang jelas-jelas sudah tidak seiring dan sejalan dengan perkembangan zaman. Sebaliknya, kita harus menyiapkan mereka menghadapi masa depan yang pasti berbeda dengan masa sekarang, apalagi masa lalu. Karena itu, agar tetap bisa memberikan layanan yang terbaik bagi anak didiknya di era saat ini, guru harus senantiasa meng-upgrade dan mereformasi dirinya.

Menyesuaikan dan Menjaga Diri
Mereka yang tak mampu menyesuaikan diri akan punah. Begitu adagium yang berlaku. Begitu pula guru. Guru yang tidak mampu mengikuti perkebangan zaman akan ditinggalkan oleh masyarakt. Saat ini tuntutan masyarakat sangat tinggi dan sudah selayaknya guru memenuhi dirinya dengan kualifikasi terbaik untuk menyambut tuntutan tersebut. Sudah bukan zamannya lagi guru tidak bisa mengoperasikan komputer atau tidak terhubung internet karena internet telah merasuki seluruh urat nadi kehidupan. Ia mengubah cara kita berkomunikasi, bekerja, dan belajar. Pola lama dalam mendidik harus segera ditinggalkan dan beralih ke pola baru yang lebih sesuai dengan era Kids Zaman Now.

Tidak dapat dipungkiri, selain memiliki sisi positif, perkembangan teknologi juga memiliki sisi negatif. Banyak pihak yang merasa sangat khawatir akan dampak buruk interaksi anak-anak dengan gawai. Kekhawatiran ini sangat beralasan karena kenakalan remaja makin beragam bentuknya seiring dengan mudahnya akses terhadap internet. Akan tetapi kekhawatiran ini tidak serta merta harus membuat guru alergi terhadap perubahan dan kemajuan. Justru tugas guru lah yang harus membentengi anak-anak dari pengaruh negatif dan mendorong mereka untuk mengambil sisi positifnya.

Setiap kemajuan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai religius dapat diambil manfaatnya semaksimal mungkin. Guru harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi ini dalam pembelajaran di kelas. Beragam multimedia diciptakan untuk membantu “meringankan” tugas guru. Namun demikian, guru tidak boleh kalah dengan multimedia. Multimedia boleh canggih, tapi guru harus tetap lebih canggih. Peran mendidik tidak bisa diwakilkan pada multimedia, ia adalah tugas abadi yang melekat pada diri guru.

Menyesuaikan diri dengan perubahan adalah wajib, tapi menjaga diri jauh lebih wajib. Jangan sampai karena ingin menyesuaikan diri, guru menjadi lupa dengan jati dirinya sebagai pendidik. Menyesuaikan diri bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip asasi. Bercampur tapi tidak lebur masih menjadi pilihan terbaik. Dan ini yang harus ditanamkan dalam mendidik anak-anak di era sekarang. Mereka harus mengikuti perubahan zaman, tetapi tak boleh melepaskan atribut-atribut kesalehan.

Dekat tapi Bermartabat
Memperlakukan Kids Zaman Now dengan gaya otoriter sepertinya sudah tidak akan laku lagi. Guru harus dapat lebih memahami karakter Kids Zaman Now yang pada umumnya adalah anak-anak yang sangat dipengaruhi oleh trend, tergantung pada komunitas dan bisa melakukan banyak pekerjaan sekaligus (multi-tasking) (Malang Post, 19 Mei 2016). Mereka juga merupakan anak-anak yang mengedepankan harga diri.

Di antara yang bisa dilakukan guru untuk merengkuh anak-anak  dengan karakter semacam itu adalah dengan kedekatan hubungan. Kedekatan ini penting agar anak-anak merasa nyaman berada dekat dengan gurunya sehingga mereka tidak ragu menjadikan guru sebagai sahabat. Jika guru bisa masuk ke dunia anak, maka anak tidak akan sungkan berkomunikasi dengan guru. Berbagai perilaku negatif yang dikhawatirkan muncul dari efek perubahan zaman bisa ditekan sekecil mungkin.

Kedekatan hubungan guru dengan siswa bisa dibangun dengan pola komunikasi yang baik. Meski tidak harus ikut-ikutan alay seperti Kids Zaman Now, guru tetap harus bisa mengikuti dunia mereka. Aktif di dunia maya bersama anak-anak bukanlah pilihan yang buruk, jika dengan ini anak-anak akan lebih mudah dipantau dan dibimbing. Apalagi seperti yang ditulis oleh Ihshan Gumilar, seorang Neuropsikolog, di antara perubahan psikologi yang patut diwaspadai pada Kids Zaman Now adalah lebih banyak waktu dicurahkan pada dunia virtual, sedangkan kehidupan sosial yang dilakukan secara offline sungguh sangat minim. (Republika.co.id,  23 Nov 2017). Karena itu, agar hubungan guru murid tidak terputus, suka tidak suka, guru harus mengikuti anak pergi ke dunia maya.

Meskipun guru harus menjalin kedekatan dengan murid di era Kids Zaman Now, bukan berarti guru harus kehilangan wibawanya. Guru harus tetap menjaga muruah dan martabatnya, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Dekat dengan murid tak lantas menjadikan guru maupun murid bebas melakukan apa saja. Tetap ada aturan-aturan yang membatasi, ada etika yang harus dijunjung tinggi. Jika guru mampu menempatkan diri, niscaya mereka bisa membimbing anak didiknya menjadi Kids Zaman Now yang tak larut akan eforia kemajuan teknologi.

Apapun zamannya, ruh guru tetap panglimanya
Waktu akan terus berlalu, zaman akan selalu berganti dan keadaan pasti berubah. Kemajuan teknologi akan berkembang sekian kali lipat dari saat ini. Yang saat ini kita anggap paling canggih, suatu saat pun akan ditinggalkan. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, perbincangan tentang Kids Zaman Now ini mungkin sudah basi. Karena itu sebagai guru, kita harus ikut pusaran perubahan itu.  Anak-anak didik kita, penerus peradaban ini, berhak mendapat yang terbaik dari kita, apapun zamannya dan bagaimanapun tantangannya.

Apa yang ditulis oleh KH Hasyim Asyari, ulama besar Indonesia dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim, masih sangat relevan untuk dijadikan pegangan bagi para guru. Aththoriqu ahammu minal madah, al mudarrisu ahammu min aththariqoh, wa ruhul mudarissu ahammu min mudarris nafsuhu. Metode lebih penting dari materi (kurikulum), guru lebih penting dari metode, dan ruh guru jauh lebih bermakna dari guru itu sendiri. Inilah bekalan yang harus senantiasa melekat pada diri guru, apakah mendidik di era Kids Zaman Now atau Zaman Tomorrow. Para guru hendaklah tetap memprioritaskan ruh, yaitu, dalam diri guru harus senantiasa melekat tanggung jawab personal, sosial dan yang paling utama, agama. Guru bukan profesi semata, tetapi merupakan jembatan menuju surga. Anak didik adalah investasi akherat, pada mereka lah guru mewariskan nilai-nilai kebaikan.

Karena itu, ruh ini harus selalu mewarnai diri guru dalam mendidik  murid-muridnya. Ruh yang hidup akan membawa muridnya pada keberhasilan. Ruh yang membara dengan semangat perbaikan akan menuntun muridnya pada keluhuran budi. Ruh yang terbungkus iman akan membawa anak didiknya menuju kejayaan peradaban. Dan ruh yang terhubung dengan RabbNya akan menghubungkan anak didiknya dengan RabbNya pula. Tak akan ada kekhawatiran mendidik di era Kids Zaman Now atau Kids Zaman Tomorrow selagi para guru berpegang pada nilai-nilai ketaqwaan yang ditumbuhkan dari ruh yang hidup dan bersandar pada keimanan.
Wallahu A’lam.


BIODATA PENULIS
Nama : Iis Nuryati, S.Pd.
Tempat/Tgl Lahir : Nganjuk, 28 Desember 1975
Pekerjaan : Guru Bahasa Inggris
Alamat Pekerjaan : SMPIT Insan Kamil Karanganyar (tergabung dengan JSIT Jateng), Jl. Kapt Mulyadi Cangakan Karanganyar Jawa Tengah 57712
Alamat Rumah : Nglano Kulon, Pandeyan, Tasikmadu, Karanganyar, Jateng

Sumber: http://jsit-indonesia.com/2017/12/05/menjadi-guru-di-era-kids-zaman-now/

Membangkitkan Fitrah Kebaikan dalam Mendidik Generasi Kids Zaman Now



Perkembangan teknologi yang semakin pesat dewasa ini, menuntut setiap orang untuk ikut mempercepat langkahnya agar tak ketinggalan. Istilah gagap teknologi pun mulai dikenal seiring dengan meningkatnya ragam produk-produk teknologi terbaru beserta aplikasi dan inovasinya. Terlalu pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini lantas mengubah seluruh tatanan kehidupan manusia yang mau tidak mau ikut terseret dalam gelombang perubahan besar-besaran tersebut.

Kekhawatiran akan fenomena gagap teknologi itu lantas memunculkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana seharusnya seseorang membuka diri terhadap perkembangan tanpa terhanyut dengan arus negatif yang menyertainya. Dalam hal ini, sosok yang paling mungkin menjadi korbannya adalah anak-anak dan remaja. Sebab secara psikologi, anak-anak adalah peniru yang hebat. Mereka juga sangat mudah mempelajari sesuatu bahkan tanpa bimbingan orang dewasa sekalipun. Sedangkan remaja yang sedang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, cenderung tidak mudah untuk mendengarkan pendapat orang lain, sekalipun pendapat itu benar.

Problematika ini tentunya membutuhkan perhatian khusus dari orang tua dan guru sebagai pihak yang dianggap paling bijaksana dalam menyikapi pengaruh globalisasi. Orang tua dan guru dituntut untuk mengikuti dan mempelajari perkembangan teknologi saat ini dalam rangka membimbing anak-anaknya agar tidak terpengaruh dengan hal-hal yang negatif. Sebab, pendidikan yang diberikan untuk generasi sebelum ini, sudah tidak relevan lagi untuk digunakan. Generasi masa kini atau yang marak disebut kids zaman now ini adalah generasi yang lahir dengan situasi yang berbeda 360 derajat dengan generasi sebelumnya yang masih belum terpapar efek negatif teknologi.

Dalam tulisannya yang dimuat di republika.co.id (Salim, Satiwan; 2017; http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/11/03/oyu6oz396-teacher-dan-parent-zaman-old-mendidik-kids-zaman-now, diakses tanggal 24 November 2017) kids zaman now didefinisikan sebagai generasi Z yang lahir di rentang tahun 1995-2010. Jika dihitung kemudian, anak-anak generasi Z ini memiliki rentang usia 7-22 tahun dan saat ini sedang duduk di bangku sekolah mulai SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.  Dalam tulisan yang sama, Satiwan Salim juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data demografis pada tahun 2010, keberadaan kids zaman now ini sangat potensial dalam pengembangan pertumbuhan perekonomian nasional.

Artinya, generasi ini adalah generasi yang sangat besar pengaruhnya dengan kehidupan bangsa di masa mendatang. Merekalah calon pemimpin, pendidik, ekonom, ilmuwan, dokter, dan orang tua di masa depan. Merekalah yang akan menggantikan generasi pemimpin saat ini yang dididik dengan pendidikan zaman dahulu dan ditempa dengan adat istiadat serta kebiasaan zaman dahulu pula.

Jika generasi zaman dahulu diminta berlari sekuat tenaga untuk mampu mengejar pesatnya perkembangan teknologi agar tidak berakhir menjadi generasi gagap teknologi, maka generasi zaman dahulu yang saat ini tentunya sudah menjadi orang tua dan mungkin guru, juga dituntut untuk mau berlelah-lelah, bersusah payah dan barangkali jungkir balik untuk mampu mengiringi serta menuntun para kids zaman now ini untuk kelak layak menjadi pemimpin bangsa.

Mereka-mereka yang sedang duduk menatap layar sambil memainkan jarinya untuk sekedar menjadi jawara dalam permainan adalah calon pemimpin. Mereka yang sedang duduk berduaan sambil merekam adegan yang entah disebut apa dengan memakai seragam merah putih mereka adalah calon pemimpin. Dan mereka yang berada di sudut sana dan sedang sibuk dengan percakapan di akun media sosialnya adalah calon pemimpin. Mereka pastinya keras kepala, berkeinginan kuat dan sulit diatur. Karena begitulah memang karakter seorang pemimpin. Namun, apakah lantas semua akan berubah begitu saja? Akankah generasi Z itu mampu menjadi pemimpin tanpa adanya didikan untuk mereka? Tentu saja jawabannya tidak.

Orang tua dan para pendidik tentunya tidak bisa apatis saja menyaksikan begitu dahsyatnya gelombang persatuan kids zaman now yang mulai sulit dikendalikan. Ibarat layang-layang, bukan lagi angin yang menerbangkannya ke kanan dan ke kiri hingga sulit dipegang, melainkan layang-layang itu sendiri yang bergerak begitu cepatnya seakan tali kekang itu akan putus. Sehingga, ketika yang memegang tali kekang itu memilih untuk menariknya paksa, ia pun seketika putus.

Dan siapakah penarik tali kekang itu? Merekalah orang tua, guru dan masyarakat. Merekalah yang harus mampu berinovasi untuk menarik kembali layang-layang itu ke arah yang benar, tanpa harus memutusnya atau membiarkannya terbang begitu saja. Orang tua, guru dan masyarakat harus mampu mengubah secara total paradigma lama yang mereka anut dan meng-installnya dengan paradigma baru yang sesuai dengan perkembangan zaman yang ada. Sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib ra,

Wahai kaum muslim, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”.

Tidaklah lagi bisa seorang pendidik menuntut siswanya untuk duduk diam dan mendengar lalu menelan mentah-mentah ucapan gurunya. Pun tidak jua bisa orang tua secara diktator menetapkan peraturan di rumah begitu saja tanpa adanya pemberontakan jiwa maupun raga anak-anaknya. Pendidik dan orang tua adalah dua pihak yang harus memahami bahwa cara lama yang mungkin berhasil untuk mereka itu tidaklah lagi efektif untuk diterapkan. Sebagaimana penggunaan sepeda kayuh yang mulai beralih dengan kendaraan bermotor. Atau tutupnya warung telekomunikasi karena tak mampu bertahan menahan derasnya laju perkembangan teknologi ponsel pintar yang sudah bagaikan makanan pokok. Begitupula proses pendidikan lama yang mulai tergerus dahsyatnya globalisasi.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mampu mendidik generasi kids zaman now ini? Satu hal yang harus dipercaya adalah bahwa setiap anak memiliki fitrah kebaikan dan tentunya juga para kids zaman now. Sehingga, memberi cap mereka sebagai generasi yang sulit dikendalikan ataupun generasi yang buruk bukanlah sebuah solusi. Hal itu justru mampu menghancurkan fitrah kebaikan mereka.

Berikut ini, langkah yang dapat dilakukan dalam mendidik para kids zaman now agar kelak mereka mampu menerima beban warisan bangsa di masa depan.

Pertama, Mendidik dengan hati
Meskipun teknologi telah berhasil memenangkan hati,jiwa dan pikiran semua orang, tetap benda itu tak akan mampu sepenuhnya mengobati hati-hati yang kesepian. Meskipun para kids zaman now ini seakan bahagia dengan kesibukannya bersama alat teknologinya, sejatinya mereka tetap merindukan belaian, pelukan, tatapan cinta dan perhatian dari sosok orang tua dan pendidik mereka.

Mendidik generasi Z harus dengan hati yang tulus. Tatap mata mereka ketika berbicara, sejajarkan tubuh agar mereka tak merasa digurui, berikan sentuhan jika itu memungkinkan dan bicaralah dengan hati. Akuilah mereka, dengar mereka dan libatkan hati untuk sepenuhnya memberi perhatian pada mereka.

Biarkan mereka bicara tentang apa saja yang mereka impikan, pikirkan, inginkan, bahkan meskipun itu tidak penting, aneh atau bahkan adalah sebuah kesalahan besar. Tetap, dengarkan dengan hati!

Kedua, Hargailah Mereka
Beri perhatian pada apa yang mereka sukai. Hargai jika mereka baru saja memenangkan sebuah pertandingan dalam permainan jika yang sedang diajak bicara adalah generasi gamers. Jalinlah komunikasi dengan mereka dengan banyak mencari tahu tentang apa-apa yang mereka sukai, agar komunikasi yang terjalin bisa lebih mudah mengalir. Jangan sampai ada batas antara orang tua dan anaknya, pun dengan guru dan siswanya. Sehingga, jika hal itu berhasil dilakukan, anak-anak dan remaja akan mudah untuk diarahkan dan diingatkan jika mereka keliru.

Ketiga Libatkan mereka dengan memberi mereka peran
Kadangkala usaha orang tua maupun guru untuk menjalin komunikasi dengan anak tidak berjalan dengan mudah. Salah satunya adalah karena sulitnya meruntuhkan batas antara menjadi orang tua, pendidik atau menjadi sahabat untuk anak. Cara yang paling mungkin untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mencoba melibatkan mereka dalam permasalahan yang dihadapi khususnya permasalahan dalam keluarga.

Walaupun maksud orang tua untuk tidak melibatkan anaknya dalam permasalahan keluarga adalah baik, agar anak tidak ikut memikirkan hal yang berat dan fokus pada sekolahnya. Namun, kadangkala hal tersebut secara tidak langsung menimbulkan jarak antara orang tua dan anak. Anak merasa kurang dihargai, apalagi jika ia sudah memasuki usia remaja. Mereka cenderung ingin dianggap penting.
Apalagi anak-anak generasi kids zaman now ini sangat mudah mengakses informasi-informasi yang menyebabkan mereka cenderung lebih cerdas untuk mampu memahami situasi. Jika orang tua tidak mampu menyembunyikan ekspresi dan mimik mereka ketika menghadapi masalah, anak akan dengan mudah membacanya. Dan jika mereka tidak dilibatkan tentu akan membuat mereka merasa terasing bahkan semakin terbebani.

Ajaklah mereka berdiskusi dan ijinkan mereka untuk mengemukakan pendapat. Agar mereka merasa dianggap “ada” di dalam rumahnya sendiri dan tidak mencoba mencari kesibukan lain di luar yang seringkali sulit diamati orang tua. Dalam hal ini, orang tua perlu memilah-milah pula, masalah apa yang sebaiknya disampaikan ke anak, Jika memang terlalu rumit dan besar, barangkali cukup disampaikan secara umum terlebih dahulu. Dan tentunya perlu menyesuaikan dengan usia dan emosi anak pula.

Dikutip di republika.co.id (Hapsari, Endah; 2012; http://m.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/12/09/09/ma2jf0-bolehkah-orang-tua-curhat-pada-anak, diakses 24 November 2017), hal yang perlu dipertimbangkan orang tua sebelum curhat ke anak, diantaranya :
  • Usia, kemampuan berpikir, kehidupan emosi dan perasaan anak.
Hasil penelitian tentang pengasuhan yang dilakukan di luar negeri menunjukkan bahwa masalah keuangan sebaiknya tidak dibicarakan atau tidak ditunjukkan pada anak di bawah usia 6 tahun.
  • Penggunaan kalimat saat menjelaskan
Orang tua berkewajiban memberikan penjelasan sesuai usia anak tentang apa yang terjadi dengan kalimat pendek, tetapi jelas. Misalnya, jika mempunyai anak usia 3 tahun yang menyaksikan pertengkaran kecil antara Ibu dan Bapak. Setelah itu selesai, Ibu mencoba mengendalikan emosi dan mengatakan pada anak dengan suara rendah, ”Maaf ya Nak, tadi suara Mama dan Ayah jadi tinggi. Kami agak marah, ada yang kurang cocok pikirannya.”

Kalau anak sudah sedikit lebih besar, kita dapat menambahkan, ”Hal seperti ini biasa terjadi antara orang dewasa!.” Ini penting dilakukan agar anak mengerti apa yang terjadi dan untuk meredakan ketegangan dan kecemasan yang dimilikinya.
  • Keadaan dan situasi anak
Keadaan dan situasi anak juga perlu dipertimbangkan. Jangan melibatkan anak bila mereka sendiri sedang dalam atau menghadapi banyak masalah. Cara penyampaian masalah juga penting. Hindari menyampaikannya ketika emosi kita sedang tinggi. Sehingga kawatir jalan keluar yang diperoleh juga tidak atau kurang bijaksana.

Keempat Beri konsekuensi bukan sanksi
Jangankan kids zaman now, para orang tua dan juga pendidik ketika masa kecil dahulu tentunya tidak nyaman saat diberi hukuman tanpa kesepakatan terlebih dahulu. Ketika pulang terlambat atau berkelahi dengan saudara, tiba-tiba diberi hukuman seperti dipukul atau dipotong uang sakunya padahal sebelumnya tidak pernah diajak untuk berdiskusi terkait kesepakatan tersebut, tentunya menimbulkan kekesalan di dalam hati.

Kids zaman now yang cenderung lebih up to date terhadap banyak hal, pastinya akan lebih mudah protes ketimbang ketika orang tuanya masih kecil dulu. Anak-anak zaman dulu biasanya nurut dengan orang tua karena takut. Sedangkan anak zaman sekarang cenderung berani dalam mengemukakan pendapat mereka, terutama jika mereka merasa benar.

Meskipun di satu sisi terkesan bahwa mereka kurang sopan, namun jika diamati dari sisi positifnya, kids zaman now adalah anak-anak yang kritis yang hanya perlu diarahkan dan diajarkan tentang adab dalam menyampaikannya saja. Karena itu, dalam memberi sanksi kepada kids zaman now, orang tua maupun guru tidak lagi bisa menerapkan metode lama.

Anak-anak sebaiknya tidak diberi sanksi, melainkan diberi konsekuensi yang sudah disepakati bersama sebelumnya. Misalnya di suatu waktu, anak-anak diajak berdiskusi tentang apa-apa saja yang tidak boleh untuk mereka. Biarkan mereka menentukan sendiri konsekuensinya dan orang tua hanya tinggal mengingatkan saja jika anak melakukan kesalahan. Biarkan mereka mengingat sendiri konsekuensi apa yang harus mereka lakukan sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Kelima Terima mereka apa adanya, bimbing untuk menjadi lebih baik dan doakan mereka.
Dalam sebuah postingan yang ditulis Harry Santosa di akun media sosialnya (Santosa, Harry; 2017; https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10214453990573684, diakses 24 November 2017), ada tulisan yang menarik untuk direnungkan pada orang tua maupun guru. Salah satu baitnya adalah orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya males gerak atau kecanduan game Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi sangat suka bergerak dengan antusias dengan tubuh yang luwes .Orangtuanyalah dulu yang menyuruhnya banyak diam agar segera berstatus “shaleh” dan memberinya gadget agar diam

Artinya, secara tidak sadar, orangtualah yang membentuk kepribadian anak, namun ketika kepribadian itu sudah melekat, orang tua justru tidak mau menerima dan malah menyalahkan anak.
Dalam postingan yang sama, Harry santosa juga mengajak para orang tua untuk bertaubat, banyak berdoa agar Allah mengembalikan fitrah anak anak. Sebagaimana tercantum dalam hadits,

“Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

Artinya, anak-anak sebenarnya memiliki fitrah-fitrah kebaikan, termasuk para kids zaman now yang mungkin fitrah kebaikannya sedang terganggu oleh derasnya arus teknologi dan informasi yang tidak mampu tersaring lagi. Dan kenyataan bahwa mereka masih menyimpan fitrah kebaikan itu adalah sebuah penyemangat bagi para orang tua maupun guru untuk terus berusaha memperbaiki dan mendoakan anak-anak khususnya generasi saat ini, agar mereka bisa kembali pada fitrah mereka.

Sebagai pendidik di masa kini, sepatutnya guru dan orang tua tidak berputus asa menghadapi generasi Z yang sudah terlanjur terpapar dengan kejamnya perubahan zaman. Sebagaimana firman Allah dalam surah Az Zumar ayat 53

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Barangkali diantara para generasi Z tersebut, ada anak-anak yang tidak terpenuhi fitrahnya semasa kecil. Semasa dimana Rasulullah SAW menganjurkan kepada orang tua untuk senantiasa berlemah lembut terhadap anak yang masih berusia dari 0 hingga 6 tahun.  Memanjakan, memberikan kasih sayang, merawat dengan baik dan membangun kedekatan dengan anak.

Jika di masa-masa emas tersebut anak-anak tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan, tentunya akan ada gejolak yang terjadi di masa berikutnya, ketika merika berusia 7 tahun ke atas. Itulah salah satu hal yang menyebabkan generasi Z atau generasi era kids zaman now menjadi sangat istimewa. Sebab mereka tidak hanya diuji dengan derasnya arus negatif teknologi, tetapi juga kurang dibekali dengan keimanan dan kasih sayang ketika masa kanak-kanak.

Namun, tentunya para pendidik, khususnya orang tua tidak lantas menyibukkan diri dengan menyesali apa-apa yang sudah terlewat. Meskipun masa-masa bersama anak tidak akan mungkin pernah terulang, namun menyesali tidak akan bisa mengubah semua yang telah terjadi. Yang perlu dilakukan orang tua maupun guru untuk mengubahnya adalah dengan me-reinstall cara mendidik anak-anak generasi kids zaman now ini. Ulangi proses-proses yang sempat terlewat dan lakukan perbaikan secara perlahan.

Yakinlah, insyaAllah, generasi anak-anak masa kini masih punya masa depan yang cerah dan cemerlang selama para guru, orang tua dan masyarakat mau peduli dan bahu membahu untuk mendidik dan mendampingi mereka dalam menghadapi kerasnya ujian di era teknologi informasi ini. Dan tentunya diperlukan kerjasama yang harmonis diantara para pendidik, agar fitrah kebaikan dalam diri anak-anak yang telah terpendam lama dapat tumbuh dan bersemi kembali.

Irasari Sevi Widya H, S.Pd


  • Pemenang Juara Harapan 1 Lomba Esai dalam rangka Hari Guru Nasional 2017 JSIT Indonesia
  • Penulis adalah seorang guru IPA di SMPIT Al Khawarizmi Tanah Grogot Kabupaten Paser Kalimantan Timur. Aktivitas ini telah ditekuni sejak tahun 2011 hingga saat ini. Ibu dari 1 putri ini hobi menulis sejak SMA dan telah menulis beberapa antologi bersama rekan-rekan penulis lainnya
 Sumber: http://jsit-indonesia.com/2017/12/04/membangkitkan-fitrah-kebaikan-dalam-mendidik-generasi-kids-zaman-now/

#Alhamdulillah Akhirnya Juara I :)



 Berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum JSIT Indonesia No. 023/SK/JSIT/XII/2017 tentang Hasil Penilaian Lomba Menulis Esai dalam rangka Hari Guru Nasional 2017, telah diputuskan  bahwa para pemenang lomba sebagai berikut:

  1. Juara 1 atas nama Muhsin SM, guru SDIT Salman al Farisi Pati, Jawa Tengah dengan judul esai: Kids Zaman Now vs Kids Zaman Semono
  2. Juara 2 atas nama Yurneli, S.Si, guru SMAIT Al Fityah Pekan Baru Riau dengan judul esai: Pembelajaran Terpadu dan Inovatif Solusi Mendidik di Era Kids Zaman Now.
  3. Juara 3 atas nama Iis Nuryati, S.Pd, guru dari SMPIT Insan Kamil Karang Anyar Jawa Tengah dengan judul esai: Menjadi Guru di Era Kids Zaman Now.
  4. Juara  Harapan 1 atas nama Irasari Sevi H, S.Pd, guru dari SMPIT Al Khawarizmi Tanah Grogot, Kalimantan Timur dengan judul esai: Membangkitkan Fitrah Kebaikan dalam Mendidik Generasi Kidz Zaman Now

  • JSIT Indonesia mengucapkan selamat pada para pemenang.
  • Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
  • Semua tulisan akan menjadi hak JSIT utk kepentingan dakwah berbasis pendidikan.
  • Terima kasih pada seluruh para peserta yg telah mengirim naskahnya.
  • Jangan patah semangat. Teruslah mendidik di era kids zaman now.
  • Selanjutnya, kami akan menghubungi para pemenang utk pemberian hadiah.
Depok, 3 Desember 2017
Ketum JSIT Indonesia
M.Zahri, M.Pd. 


Sumber : http://jsit-indonesia.com/pengumuman-pemenang-lomba-essai/

Mari Peduli Pendidikan Anak-anak Pesisir


Mari kita bantu anak-anak yang tinggal di pesisir pantai utara untuk menikmati pendidikan bermutu sebagaimana yang dinikmati oleh anak-anak kota. Di daerah pesisir utara belum ada lembaga pendidikan yang bermutu sebagaimana yang banyak berdiri di kota-kota.

Saat ini telah berdiri sebuah lembaga pendidikan bernama "Salman al-Farisi" yang melayani kebutuhan pendidikan mulai TPA, KB, TK dan SD. Namun karena keterbatasan dana yang ada sehingga sarana dan prasarana yang ada sangat tidak layak.

Kami mengetuk hati para donatur untuk ikut membantu program mulia ini. Semoga kelak kita punya catatatn amal yang baik di akherat. Ikut membantu program pendidikan adalah LEBIH BAIK daripada ikut mendirikan masjid. Membantu program pendidikan tentu saja PAHALAnya LEBIH BESAR daripada membantu mendirikan bangunan masjid.

Ayo segera donasi, sebelum semua menjadi sia-sia dan sesal tiada guna.

Silahkan klik alamat web www.kitabisa.com/sekolahpesisir   untuk melihat lebih lanjut...

Korupsi Reklamasi Vs World Memory Championship


Korupsi Reklamasi VS World Memory Championship

Oleh: Muslim Armas
(Alumni ITB, inisiator petisi Tolak Reklamasi)

Diantara ramainya berita buruk yang ada di bangsa ini, masih banyak anak-anak bangsa yang berkiprah di kancah internasional namun minim apresiasi dan pemberitaan. Contohnya saja, Indonesia menjadi tuan rumah kejuaraan dunia daya ingat, World Memory Championshio (WMC) pada 1-3 Desember 2017 di Ancol, Jakarta. 21 Perwakilan negara dan lebih dari 300 orang yang terlibat dalan rangkaian acara ini.

Mengadakan acara ini tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit namun disisi lain dengan mudahnya para oknum pejabat mengambil uang negara untuk kesenangan pribadi. Coba lihat pernyataan ini :

"Kasus pencucian uang reklamasi di teluk Jakarta mencapai Rp 45 miliar (ini yg ketahuan), sedangkan nilai yang sama bisa untuk membiayai 1.200 kali usaha pemecahan massal Rekor MURI yang diikuti ratusan peserta pada ajang World Memory Championship".

Bayangkan, dengan uang korupsi ini, kita bisa membuat sebuah event positif berskala internasional di ajang kejuaraan dunia yang mendatangkan ratusan wisatawan dan mendapatkan promosi dari setiap peserta yang hadir dengan multiply effect yang besar.

Kegiatan ini minim apresiasi pemerintah, tidak hanya kepada penyelenggara tetapi terutama juga kepada anak- anak Indonesia yang telah berkali- berkali bertanding di berbagai kejuaraan memory internasional untuk mempersiapkan diri menghadapi World Memory Championship.

Dengan biaya sendiri, putra/i bangsa terus mengukir prestasi di olimpiade daya ingat internasional (memory sports). Berikan apresiasi bagi mereka di World Memory Championship! Ayo kita terlibat, support mereka dengan klik:

https://kitabisa.com/worldmemorychamp

Demam Disruption

Mengapa Saya Tidak Sepakat dengan Prof. Rhenald Kasali
(From Disruption to Abundance, from Paranoid to Optimism)


Akhir2 ini saya sering dapat broadcast WA, postingan FB, dan pembicaraan simpang siur yg isinya adalah semacam peringatan, bahkan ancaman tentang bahaya "Era Disruption". Terakhir bahkan ada seorang penulis yg mungkin karena semangat sekali, menyatakan bahwa saking mengkhawatirkannya era disruption ini, “bisa membuat anak cucu kita mati berdiri sambil memeluk kitab suci yg entah akan menolong dengan cara apa”. Maka saya terpaksa bikin tulisan ini, walaupun sedang musim ujian di program MBA saya di UK ; USA.

Setelah saya lacak, histeria dan demam “Disruption” ini sepertinya salah satunya berawal dari buku, ceramah dan tulisan2 Prof. Rhenald Kasali, Guru besar FE UI, dan salah satu "World Management Guru", khususnya dibidang Change Management. Saya sangat setuju dan menghormati beliau sebagai salah satu tokoh penggerak perubahan yg saya kagumi dan ikuti tulisan2nya. Dan sampai saat inipun saya masih menghormati beliau. Tulisan ini sama sekali "nothing personal", hanya sekedar perimbangan wacana saja, agar perspektif kita lebih utuh untuk menyikapi gegap gempita demam "disruption era" yg salah kaprah.

Saya merasa ada yg kurang lengkap dari pemaparan beliau yg akhirnya bikin banyak orang ketakutan dan salah paham. Banyak orang awam yang akhirnya jadi panik nanti masa depan anak2nya bagaimana jika pekerjaan2 yang ada sekarang bakal lenyap. Banyak eksekutif perusahaan jadi panik jangan2 mereka akan jadi korban "disruption" berikutnya dan akhirnya tergopoh2 mau bertindak tapi jadi mati gaya karena bingung entah mau melakukan apa. Saya bisa memahami jika Prof. Rhenald bikin banyak orang jadi ketakutan. Bahkan di acara bedah buku beliau di Periplus yg saya tonton lewat Youtube, sang moderator sendiri sampai bertanya, "Prof, Ini kita kesini mau cari ide bisnis di era disruption, tapi kok malah pada pesimis nih menatap masa depan, setelah mendengar pemaparan profesor..

Dan Prof. Rhenald masih juga belum memberikan jawaban yg tegas bagaimana menyikapi perubahan drastis ini. Saya juga memahami mengapa Prof. Rhenald di buku2nya, tulisan2 dan ceramah2nya banyak menghasilkan kepanikan dan ketakutan. Mungkin ini berawal dari paradigma "Change Management" yg menjadi bidang keahlian beliau. Dalam ilmu manajemen perubahan, salah satu tokoh utamanya adalah Professor Emeritus Harvard Business School, John P. Kotter, dengan teori beliau tentang "8 Steps to change".

Dalam teori ini, langkah pertama untuk bikin sebuah organisasi (dan individu) mau berubah adalah dengan "increase urgency" alias bikin orang2 merasakan urgensitas perubahan. Dan cara paling ampuh untuk itu adalah dengan bikin mereka "ketakutan" apa dampaknya jika tidak mau berubah. Mungkin dengan niat baik inilah Prof. Rhenald hendak menyadarkan masyarakat agar segera “berubah”. Saya sepakat dengan niat baik untuk menggugah kesadaran masyarakat agar berubah, tapi saya tidak sepakat dengat pendekatan yang entah disadari atau tidak oleh beliau telah menebarkan banyak ketakutan dan kegalauan.

Mengapa saya tidak sepakat? Berikut ini alasannya:

A) Sebenarnya cara “menebarkan ketakutan dan kekhawatiran” ini baik2 saja diterapkan untuk jenis perubahan yang tidak membutuhkan kreativitas, tapi jadi tidak produktif jika tujuan kita adalah untuk melahirkan inovasi, kreatifitas, dan terobosan2 baru. Padahal untuk survive dan Berjaya di era disruption, salah satu syarat utamanya adalah: KREATIVITAS.

B) Tidak pernah (atau setidaknya jarang sekali) ide2 kreatif dan terobosan2 inovatif terlahir dari rasa takut. Buku babon setebal hampir 800 halaman tentang kreativitas, The Encyclopedia of Creativity menyebutkan bahwa salah satu penghalang utama kita untuk menghadirkan solusi kreatif adalah jika kita sedang mengalami “emotional barrier”. Dan diantara semua jenis emosi penghalang kreativitas ini, rasa takut adalah yg paling melumpuhkan. Jadi anda tidak bisa memaksa orang yg sedang dilanda ketakutan tentang bahaya era disruption untuk mencari solusi kreatif tentang bagaimana sukses mengatasinya. Anda hanya akan berhasil membuat mereka ketakutan, merasa terpaksa harus berubah, semangat ikut trainingnya, tapi bingung dan mati gaya harus melakukan apa.

C) Cara yg lebih pas untuk bikin orang terbuka pintu hatinya untuk mau berubah, sekaligus terinspirasi untuk jadi kreatif menemukan solusi adalah dengan memberikan mereka rasa OPTIMISME akan hadirnya kesempatan yang sangat besar menanti di depan mata.

1) Bill Gates melahirkan Microsoft bukan karena ketakutan kehilangan pekerjaan, tapi terinspirasi sekali akan hadirnya komputer, dan optimis bahwa dia bisa bikin software bagus. Akhirnya dia telpon ibunya bahwa dia bakal 6 bulan tidak pulang untuk mengerjakan proyek MS-DOS dari IBM.

2) Mark Zuckerberg bikin Facebook bukan berangkat dari ketakutan akan masa depannya. Bahkan dia pertaruhkan masa depannya dengan DO dari Harvard demi mengejar impian "menghubungkan tiap orang di muka bumi". Pada saat ceramah di acara wisuda di Harvard, dia mengatakan, yg bikin dia bisa melahirkan Facebook, karena dia merasa tenang, tidak takut apapun. Dan dia ingin menekankan pentingnya setiap orang untuk “bebas dari rasa takut”, untuk mencoba hal2 baru yg inovatif.

3) Steve Jobs, Thomas Alfa Edison, Elon Musk, Jeff Bezos, sebutkan semua inovator kreatif yg bikin perubahan2 radikal abad ini, hampir semuanya tidak ada yg melahirkan inovasinya dalam suasana batin ketakutan akan ancaman situasi masa depan. Mereka semua adalah para OPTIMISTS yg melihat kesempatan besar ditengah kebanyakan orang yang sedang kalut dan takut menghadapi tantangan zamannya.

4) Terakhir, di level lokal, Trio Unicorn Indonesia (Startup bernilai diatas 14 Trilyun rupiah: Gojek, Traveloka & Tokopedia) tidak ada yg dilahirkan dari orang2 yg ketakutan akan masa depan. Mereka semua mendirikan perusahaan2 tersebut dengan suasana batin optimis dan terinspirasi akan peluang besar di depan mata.

5) Singkat kata: Takut ; pesimis = Bingung ; Mati Gaya, Tenang ; Optimis = Kreatif ; Solutif

D) Era Disruption adalah era yg seharusnya bikin kita optimis, bukannya malah ketakutan. Mengapa? Karena ini hanyalah era transisi menuju era abundance (keberlimpahan). Minggu lalu saya baru pulang dari training di Singularity Univeristy. Ini adalah salah satu lembaga yg meneliti, mengajarkan dan mempopulerkan istilah “Disruption Era”. Lembaga ini di disponsori oleh NASA, Google, dan perusahaan2 teknologi paling top di Silicon Valley, bahkan bertempat di pusat penelitian NASA disana.

Di pusatnya sini, Istilah “disruption era” itu menimbulkan aura positif, optimis, dan penuh semangat. Saya ndak tahu lha kenapa begitu sampai di Indonesia malah diartikan salah kaparah sebagai istilah yg menakutkan dan penuh ancaman. Mungkin karena Prof. Renald sebagai juru bicara utamanya menyampaikannya sepenggal saja (sisi seramnya), jadi banyak orang salah paham, panik dan ketakutan. Itulah mengapa belajar setengah2 itu berbahaya, “little bit learning is dangerous”.

E) Era disruption adalah fase ke-3 dari 6 fase Exponential Growth. Yg menelorkan teori ini adalah Peter Diamandis (Co-founder dari Singularity University tersebut). Menurut beliau, abad ini akan ditandai perubahan besar2an yg terjadi dalam 6 fase (6D's of Exponential Growth):

1) Digitalization (Transformasi dari analog menjadi Digital. Misal: Kodak menemukan Foto Digital. Atau Musik, Film, Buku, dll dijadikan bentuk digital MP3, MP4, PDF, dll)

2) Deception (Kodak tertipu karena dikira ini teknologi amatir yg ndak bakal bisa menggantikan keindahan dan ketajaman foto manual, karena saat itu resolusinya masih 0,1 Mega Pixel).

3) Disruption (Diluar kendali Kodak, tiap 18 bulan, ketajaman foto digital naik 2x lipat secara eksponensial. Dan pada saat ketajamannya mencapai 2 Mega Pixel, kualitasnya sudah sama dengan foto analog. Saat itulah Kodak mulai terdisrupsi.) Fase inilah yg bikin kehebohan disana sini, karena di fase ini, Uber mendisrupt perusahaan taxy, AirBnB mendisrupt Hotel, dll. Terjadi kepanikan masal karena dipikir dunia (minimal bisnis kita) akan runtuh.

4) Dematerialization (semua produk digital akhirnya tidak perlu wadah "material" karena tiba2 semua bisa disimpan di Cloud yg siap diunduh kapanpun dan dimanapun. Jadi silahkan dibuang Semua hardisk yg beirisi koleksi Foto digital anda. Upload aja ke Google Foto yg gratis penyimpanannya, kapanpun, dimanapun, pake alat apapun yg kompatibel, jika anda perlu foto itu tinggal download)

5) Demonetization (Begitu semua tidak dalam wadah material, maka harganya makin lama makin turun. Dan satu saat bisa sangat murah dan terjangkau buat semua. Begitu buku sudah di .Pdf kan, harganya nyaris Nol. Silahkan aja ke koleksi 300 juta buku gratis di: www.pdfdrive.net. Sekarang semua Musik, foto, buku, film, serial tv sudah dibikin versi digitalnya, yg kita masih diminta bayar, tapi ini makin lama makin murah, karena tidak ada lagi "biaya cetak".

6) Democratization (Pada puncaknya, semua produk akan menjadi murah dan tersedia buat semua orang. Anda telah merasakan sebagian, Video call gratis, HP Murah, Belajar ; Baca Buku, Nonton Film dan dengar musik gratis, dll. Inilah fase Abundance for All: Keberlimpahan buat semua).
Peter Diamandi menulis buku khusus yg menjelaskan fenomena “Abundance” ini. Sekedar intermezzo: Saat Bill Clinton mempromosikan buku ini, Peter ditanya sama Bill, “mengapa anda jadi orang kok sangat optimis?” Peter menjawabnya, “Karena saya tidak pernah baca berita (apalagi hoax), dan saya hanya percaya sama data2 ilmiah. Dan semua data ilmiah ini mengarah kesana, bahwa kita semua akan berkelimpahan, abundance for all”.

Mungkin ada baiknya kita tiru kebiasaaan Peter Diamandis ini agar kita tidak serba pesimis dan ketakutan: Jangan banyak baca berita, mulailah baca data2 ilmiah. Maka mestinya, era disruption itu tidak perlu ditakuti atau bikin panik, cuman perlu dipahami bahwa ini bagian dari revolusi kemajuan peradaban yg makin lama akan makin cepat dan insya Allah mengarah pada perbaikan buat semua.. the greatest good for the greatest number of people.

Kalau dalam revolusi ada korban2 yg bergelimpangan karena ndak cukup paham dan tanggap, itu hal yg biasa. Nanti juga mereka akan belajar. Dan kita semuapun perlu belajar lebih tuntas untuk menyambut Era Baru yang sangat menjanjikan ini. Kesimpulan: Terimakasih Prof. Renald Kasali, yang atas jasa bapak telah menggugah banyak orang dan perusahaan untuk shock dan mau berubah. Tapi semoga ini jangan kebablasan jadi ketakutan dan kekhawatiran massal. Karena itu perlu dilengkapi juga dengan wacana penyeimbang yang menyuntikkan optimisme dan harapan. Karena ide2 besar kreatif dan terobosan2 baru inovatif untuk survive dan Berjaya di era disruption ini tidak akan pernah lahir dari rasa takut dan panik, tapi akan tumbuh subur di pikiran orang2 dan perusahaan2 yg tenang dan optimis.

Salam takdzim buat Prof. Rhenald Kasali dan kawan2 semua yg membaca tulisan ini. Bloomington, 14 November 2017 Ahmad Faiz Zainuddin Mahasiswa MBA Warwick Business School, UK Indiana University, USA Alumni Singularity University, Silicon Valley, USA

Tomat itu Bukan Buah, Tetapi Sayuran. Percaya?

Tomat Itu "Sayuran"

Saya itu akuntan, lulusan FEUI, dengan skripsi tentang pajak (transfer pricing dan tax treaty). Skripsi saya dulu tahun 2002, konon katanya, lebih maju 10 tahun dibanding regulasi yg ada. Tapi apa daya, nasib sy dikenal sebagai penulis, maka orang2 setiap kali melihat sy bicara tentang keuangan, ekonomi pun pajak, hanya memicingkan mata, lantas berkomentar di depan wartawan, “ah, Tere ini cuma salah persepsi! dia salah paham!” atau lebih ngenes lagi, pas dibilangin, “ah Tere ini, dia tidak tahu apa-apa soal itu.”

Tapi tidak mengapa. Saya pernah datang ke sebuah acara dengan seribu peserta, disuruh bicara di sana. Datanglah saya pakai sendal jepit, kaos, celana jeans. Nasib, sy datang terlalu on time, peserta baru separuhnya, jangan tanya kapan dimulai. Acara positif molor. Maka sy duduk nyempil di dekat pintu, njeplak di situ. Panitia berlalu-lalang di dekat saya. Baru satu menit di sana, salah-satu panitia berseru ke saya, “Pak, pak! itu sound system gimana sih? Rapikan dong kabel2nya!” Saya bangkit berdiri, “Iya, baik.” Tidak apalah disangka teknisi yg disuruh2.

Aih, ini prolog tulisan kenapa malah bikin saya pamer. Jelas sekali dua paragraf awal ini pamer dalam skala mematikan. Tapi tidak apa, biasanya sy hapus sebelum diposting, tapi biarkan sajalah, biar kalian tahu, penulis itu juga manusia. Kadang, sehati2 sekalipun dia menulis, se-disiplin apapun dia melarang dirinya pamer, lebay, tetap saja itu muncul. Demikianlah. Setidaknya sy tdk sedang pamer foto lagi sujud rakaat ketiga shalat shubuh.

Nah, kembali ke topik tulisan, apa sih sebenarnya yg hendak sy tulis di postingan ini? Tentang pajak. Sedikit pembuktian, kalau sy ini punya pemahaman pajak yg tidak salah persepsi, apalagi salah paham. Saya punya kasus menarik, yg semoga bisa jadi pelajaran bagi teman2 di ditjen pajak. Ah, saya dulu sempat diterima di STAN loh, yg DIII atau DIV sy lupa, omong2 soal Pajak ini. Sy sudah serahkan ijasah SMA saya, karena ikatan dinas. Tapi karena sy diterima di FEUI juga, sy memutuskan tdk jadi di STAN. Bukan apa2, sy itu penakut sekali. Saking takutnya, sy pernah janji tdk akan jadi PNS, karena sy takut korupsi. Maka berbangga hatilah jika kalian PNS, kalian orang yg berani. Dibutuhkan mental baja tiada tara untuk jadi PNS yg amanah. Saya penakut, sy tidak bisa membayangkan kalau sy jadi ambil di STAN tahun itu, sy satu angkatan sama Gayus itu. Mungkin sebelahan meja di kelas. Mungkin, sebelahan sel juga sekarang. Ampun dah, lagi2 saya melantur kemana2. Duh, Gusti, hari2 ini, eror sekali dunia kepenulisan saya. Semoga pembaca sy tidak ikut eror.

Baik, kembali ke soal apa yang hendak saya tulis. Tahun 1893 di Amerika Serikat, pengimpor Tomat maju ke pengadilan, mereka menuntut keadilan. Karena telah diperlakukan tidak adil. Apa pasalnya? Karena berdasarkan Tariff Act 0f 1883, TOMAT itu didefinisikan sebagai buah-buahan, dan bea cukai/pajak juga memperlakukannya sebagai Tomat. Lah, memang Tomat itu buah, bukan? Kenapa harus diributkan? Secara ilmiah, tomat memang masuk buah-buahan. Sama kayak rapsberry, bluebberry, biri-biri, eh itu domba ding. Tapi masalahnya, kata importir Tomat: TOMAT ITU pas masuk dapur, dia mayoritas jadi bahan masakan, main course, bukan buah yg dimakan. Tanya sama koki2, mereka akan bilang itu sayuran.

Kenapa sih importir ini mengotot maju ke pengadilan. Simpel: pajak masuk buah adalah 20% (misalnya), pajak masuk sayuran adalah 10%. Beda banget pajaknya. Maka mereka tak sudi bayar 20%. Wah, saat importir ini ribut, bikin pengumuman di page facebooknya: mulai besok kami berhenti impor tomat. Hebohlah satu Amerika. Heboh banget. Banyak yg komen, ini si importir benci sama Jokowi, eh, aduh, ngelantur. Kenapa cuma pemerintahan sekarang yg disalahkan. Ini politis. Juga ada yg komen, ini importir baperan banget sih, dasar nggak mau bayar pajak. Dll, dll. Ramai sekali. Termasuk Menkeu juga bikin pernyataan, coba dirjen pajak temui itu importir Tomat, pesan satu kilo tomat sekalian, bungkus, jangan makan di sana. Eh? Aduh.

Tapi karena sudah masuk pengadilan, maka dimulailah proses panjangnya. Setelah proses pengadilan, Supreme Court Amerika Serikat memutuskan: tomat adalah sayuran--terlepas dari fakta dia adalah buah. Karena yg dilihat adalah subtansinya. Silahkan saja profesor botani mau bilang itu buah, tapi karena ini kasus pajak, dan pajak harus diperlakukan adil, maka yg dilihat adalah substansinya. Bahwa fakta tomat dipakai sebagai bahan masakan, seperti halnya sayur2an, maka dia masuk kategori itu.

Dalam perdebatan tentang pajak profesi penulis. Sebenarnya kata kuncinya ada di: passive income. Saya setahun ini, duuh gusti, berdebat kemana2 soal ini. Dan orang pajak, juga berdebat di internal mereka. Ada yg malah berantem sama teman kantornya, hehe. Apa sih masalahnya? Royalti penulis itu selalu dipahami passive income--jadi sifatnya netto. Yg kalau sudah nulis sekali, selesai sudah, penulis bisa kaya raya, selama2nya. Sama kayak Tomat yg dipahami sebagai buah, karena memang bentuknya buah.

Tapi apakah menulis itu begitu? Passive income? Nggak perlu ngapa2in, jadi bukunya, langsung dpt uangnya? Nggak. Siapa bilang jika seseorang punya buku, maka passive income akan mengalir seperti anak sungai? Ayolah, lihat di Indonesia, buku itu usianya paling 6-12 bulandi toko, sekali penulis tersebut berhenti menulis, maka mampet sudah aliran sungainya. Penulis harus terus me-maintain, mengelola, menjaga aliran penghasilan tersebut, dgn terus menulis buku2 berikutnya--agar buku lamanya tetap laku. Dan bicara ttg menulis, itu bukan proses pendek. Buku top yg kalian pegang sekarang, adalah hasil riset bertahun2, ada yg bahkan 8-10 tahun. Akhirnya baru jadi. Pasti laku? Belum tentu. Dari 100 buku yg terbit, hanya 3-5 saja yg sukses. Sisanya, meski sudah habis waktu, tenaga, biaya, air mata, darah, ternyata nggak laku. Enakan jualan kue, bikinnya 30 menit, langsung dapat hasilnya. Bikin buku, duh Gusti, kalau itu buku tdk laku, kan tidak bisa dimakan sendiri kayak bikin kue, numpuk di rumah (kalau indie). Dan ingat bertahun2 proses bikinnya itu mau bagaimana? Dia makan apa, kan penulis tetap butuh makan, mentang2 passive income dia nggak perlu makan saat 5 tahun nulis buku?

Dan apakah penulis itu memang megah sekali penghasilannya? Keliru. Jika harga buku 100, maka sejatinya royalti dia hanya 10. Bahkan buku anak2 di Indonesia, jatahnya hanya 5. Kecciiil sekali. Dan dari 10 atau 5 itu, pun tetap akhirnya dipotong oleh pajak. Yg dibawa lebih kecil lagi. Sadis sekali.

Jika kalian tdk dalam posisi penulis, mungkin susah memahami realitas ini. Kalian hanya melihat betapa megahnya buku2 yg saya baca. Seolah kehidupan penulis sama hebatnya seperti isi buku. Sy juga tahu, orang banyak tetap akan bilang itu passive income, mereka punya argumennya, mereka punya buktinya, dan sy tidak bisa membantahnya. Sama kayak importir tomat tadi, mereka akan bilang: kami ini pelaku industri, kami tahu persis, orang2 beli tomat karena untuk bikin masakan. Kami tahu ini buah. Tahuuu sekali, tapi pembeli kami memperlakukannya sebagai sayur, maka perlakukanlah seperti sayuran . Hakim Supreme Court menggunakan argumen itu, mereka memutuskan tomat sebagai sayuran. Kasus selesai.

Dalam kasus pajak profesi penulis ini, sy tdk tahu akan seperti apa keputusan orang2. Jika mereka mau menganggap ini sebagai passive income, tidak boleh pakai NPPN, kena pajak 30% di layer tertingginya saat ngisi SPT, tidak masalah. Sy ihklas menerimanya. Biarlah begitu. Berarti perjuangan ini berakhir sia-sia. Tapi itu bukan kiamat. Karena penulis selalu bisa menulis tanpa harus menerbitkan buku. Sy bisa bagikan naskah nvoel baru secara gratis di page ini, dan memang sudah dilakukan secara terus-menerus. Jika kalian adalah pengikut page saya sejak lama, kalian tahu sekali sudah 10 novel yg dibagikan gratis di sini. Bahkan novel yg belum diterbitkan, dibagikan saja. Lantas penulis dapat apa dong kalau dibagikan gratis? Duh, Nak, penulis itu tetap akan baik2 saja meski tdk ada yang membayar karyanya. Bahkan jika orang sibuk membajak bukunya, orang2 memajakinya gila2an, dia tetap bisa terus menulis--kalau mau menulis. Bagikan gratis. Kasus selesai.

Apakah tomat itu buah atau sayuran? Kalian tahu jawabannya sekarang.Tomat itu buah. Tapi dalam perlakuan pajak, tomat itu adalah sayuran. Dikecualikan. Bisa. :)
*Tere Liye
**kalau ada yg salah ditulisan ini, mohon diperbaiki dan dimaafkan Tere Liye. sy hari2 ini banyak dosanya, bikin orang2 bertengkar. bikin orang2 ilfil.
**kalau kalian bersedia, silahkan dishare banyak2, mungkin bermanfaat.

Hidayat Nur Wahid: Perdekatan Persuasif tak Tepat untuk Kasus Makar di Minahasa


Jakarta. Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan, makar yang terjadi di Minahasa memanfaatkan isu penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Menurut dia, kondisi perpecahan tersebut, adalah lanjutan bentuk provokasi atas vonis yang diterima Ahok.

“Ini sebuah kondisi yang menunggangi isu Ahok, karena dilakukan dengan provokasi (jika) Ahok ditahan, ya (maka) Minahasa merdeka,” ujarnya Selasa (16/5).

Menurut HNW, masalah yang dibawa Ahok dijadikan alasan untuk melakukan sparatisme. Makar dengan menunggangi isu vonis Ahok, dia mengatakan, merupakan sebuah kejahatan. “Menunggangi kasus Ahok untuk kepentingan separatisme adalah sebuah kejahatan,” jelasnya.

Seharusnya, kata dia, polisi betul-betul meluruskan tindakan makar demi tegaknya hukum di NKRI. “Ini sudah jelas-jelas akan melakukan tindakan kemerdekaan, tapi justru Kapolri malah mengatakan akan melakukan pendekatan persuasif,” tegas HNW.

HNW menilai, pendekatan persuasif yang dipilih Polri untuk kasus makar Minahasa adalah langkah yang tidak tepat. Pendekatan tersebut, kata dia, justru satu pendekatan yang tidak mencerminkan tentang adanya keadilan. Dilansir republika.co.id

Psywar di Balik Pembubaran HTI


Psywar di Balik Pembubaran HTI
By:Nandang Burhanudin
(1) Saya tidak terlalu serius menanggapi pernyataan Wiranto soal pembubaran HTI. Sebab di era rezim raisoopo-opo, apapun tidak ada yang perlu dianggap serius, selain operasi menjual Indonesia dan patuh sepenuhnya pada Asing-Aseng.
(2) Jika mau jujur, kehandiran HTI sebenarnya menguntungkan kalangan Islamis. Terutama di pengajian marhalah 1-2. Tapi menguntungkan kalangan Liberal, Sekuler, dan Islamophobia di marhalah 3 dan selanjutnya. Mengapa?
(3) Marhalah awal di HTI, sangat bagus untuk shock theraphy pemikiran. Terutama di bab kajian problematika umat. Tapi biasanya akan mentok di permasalahan solusi. Terutama jika dikaitkan dengan pendirian khilafah.
(4) Di fase selanjutnya, HT yang sangat antipati dengan apapun yang berbau demokrasi. Tentu sangat menguntungkan kalangan Islamphobia, terutama dalam kondisi lomba perolehan suara. Paham antidemokrasi menyuburkan golput di kalangan Islamis.
(5) Kendati demikian, saya tidak mendukung cara pemerintah yang tidak demokratis dalam wacana pembubaran HTI. Maka patut dicurigai, ada apa sebenarnya di balik sandiwara pembubaran HTI?
(6) Saya menemukan jawabannya, pemerintah Jokowi dan timnya sedang meniru langkah Korea Utara saat membunuh 1000 tentara AS, ketika perang berkecamuk di semenanjung Korea.
(7) Cara yang ditempuh Korut, sangat unik. Para tawanan diberikan fasilitas mewah. Logistik cukup. Penjara yang luas, tanpa pagar tinggi. Bahkan semua diberi kebebasan berkomunikasi. Lalu apa yang dilakukan?
(8) Hanya 3 poin saja. Pertama: Semua penghuni penjara dijejali berita buruk dan busuk. Kedua: Semua diberi kesempatan mengungkapkan pengkhianatan masing-masing di hadapan umum. Ketiga: Sesama penghuni penjara diberi kebebasan memata-matai.
(9) Menjejali berita buruk adalah perang psikologi untuk menjatuhkan mentalitas rakyat, terutama kalangan Islamis. Mulai dari isu korupsi, pelanggaran seks, hingga penista Al-Qur’an yang diperlakukan istimewa.
(10) Semua menjadi bumbu pedas di samping berita penembakan polisi saat razia, kenaikan harga-harga, listrik meroket, premium hilang, gas mahal, pajak mencekik, pelanggaran rezim terhadap konstitusi, dll.
(11) Kemudian cara mengungkap kebusukan di hadapan publik. Bahkan semua dipertontonkan secara gratis. Pesan yang ingin disampaikan, jadilah penjilat jika mau selamat. Menjilatlah, anda jadi hebat!
(12) Adapun operasi saling meng-inteli, adalah cara ampuh mengobarkan proxy war antar sesama ormas. Politik belah bambu, politik yang membuat Belanda dan penjajah sukses mengangkangi negeri Muslim.
(13) Jadi, wacana pembubaran HTI sebenarnya sinyal bahwa Islamis tidak akan diberi ruang dan peran saat rezim raisoopo-opo ini berkuasa. Lalu mengapa HTI yang menjadi korban? Sebab HTI adalah paling lemah.
(14) HTI menunda jihad sebelum tegaknya khilafah. HTI menjadi organisasi yang senang mencubit saudara-saudara sesama Islamis. Sebut saja kalangan Tarbiyah pro demokrasi, selalu menjadi korban kegenitan HTI.
(15) HTI juga minim teman dari kalangan ormas semisal Muhammadiyah, NU, Persis, PUI, Al-Irsyad. Jenis kelamin HTI juga sedikit ambigu. Hizb adalah partai, tapi tidak aktif di ranah politik. Namun kajiannya politis.
(16) Tapi sekali lagi, pembubaran HTI bukan solusi. Sebagai Muslim kita harus menolaknya! Pembubaran ormas hanyalah operasi senyap membunuh pelan-pelan ruh perlawanan umat Islam.
(17) Saya bersama HTI, jika dibubarkan oleh rezim yang telah terbukti lebih banyak korup dan memperjualkan nasionalisme sempit demi seongok materi. Waspadalah!
Sumber: http://nandang.me/2017/05/psywar-di-balik-pembubaran-hti/

TERTEGUN DI HADAPAN IMAM NAWAWI


.- Apa yang mau kita sombongkan; jika Imam An Nawawi menulis Syarh Shahih Muslim yang tebal itu sedang beliau tak punya Kitab Shahih Muslim?

.- Beliau menulisnya berdasar hafalan atas Kitab Shahih Muslim yang diperoleh dari Gurunya; lengkap dengan sanad inti & sanad tambahannya.

.- Sanad inti maksudnya; perawi antara Imam Muslim sampai Rasulullah. Sanad tambahan yakni; mata-rantai dari An Nawawi hingga Imam Muslim.

.- Jadi bayangkan; ketika menulis penjabarannya, An Nawawi menghafal 7000-an hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim sekitar 9 - 13 tingkat Gurunya; ditambah hafal sanad inti sekitar 5-7 tingkat Rawi. Yang menakjubkan lagi; penjabaran itu disertai perbandingan dengan hadits dari Kitab lain (yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya), penjelasan kata maupun maksud dengan atsar sahabat, Tabi'in, & 'Ulama; munasabatnya dengan Ayat & Tafsir, istinbath hukum yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

.- Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya.

.- Hari ini kita jumawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, & tak malu sedikit-sedikitbertanya pada Syaikh Google.

.- Kita baru menyebut 1 karya dari seorang 'Alim saja sudah bagai langit & bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karyanya yang hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca? Bagaimana kita mengerti kepayahan pada zaman mendapat 1 hadits harus berjalan berbulan-bulan?

.- Bagaimana kita mencerna; bahwa dari nyaris 1.000.000 hadits yang dikumpulkan & dihafal seumur hidup; Al Bukhari memilih 6000-an saja? Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan al-Bukhari; tidakkah kita renungi; mungkin semua ucap & tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

.- Kita baru melihat 1 sisi saja bagaimana mereka berkarya; belum terhayati bahwa mereka juga bermandi darah & berhias luka di medan jihad. Mereka kadang harus berhadapan dengan penguasa zhalim & siksaan pedihnya, si jahil yang dengki & gangguan kejinya. Betapa menyesakkan.

.- Kita mengeluh listrik mati atau data terhapus; Imam Asy Syafi'i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, dipaksa jalan kaki Shan'a-Baghdad.

.- Kita menyedihkan laptop yang ngadat & deadline yang gawat; punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi & petang hanya karena 1 kalimat.

.- Kita berduka atas gagal terbitnya karya. Sedang Imam Al Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan hingga menjelang ajal agar terhindar dari puja.

.- Mari kembali pada an-Nawawi & tak usah bicara tentang Majmu'-nya yang dahsyat & Riyadhush Shalihin-nya yang permata; mari perhatikan karya tipisnya; Al Arba'in. Betapa berkah; disyarah berratus, dihafal berribu, dikaji berjuta manusia, & tetap menakjubkan susunannya.

.- Maka tiap kali kita bangga dengan "best seller", "nomor satu", "juara", "dahsyat", & "terhebat"; liriklah kitab kecil itu. Lirik saja.

.- Agar kita tahu; bahwa kita belum apa-apa, belum ke mana-mana, & bukan siapa-siapa. Lalu belajar, berkarya, bersahaja.

Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami yang tidak menghargai waktu ini. Ampunilah kami yang mesti bisa melakukan banyak hal untuk dakwah, tetapi kami hanya share broadcast yang tidak bermutu. Astaghfirullah al-adzim...


Ini Bahaya dari Aplikasi Gratis Smartphone

Anda memiliki smartphone? Mungkin banyak yang mengatakan iya, apalagi jika Anda seorang pelajar, mahasiswa atau pekerja. Smartphone kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Anda juga tentu tidak asing lagi dengan sebuah aplikasi, baik itu game, produktivitas, dan lainnya. Di ‘pasar’ aplikasi, baik itu Play Store, Windows Store dan lainnya, tentu menyediakan dua pilihan aplikasi, yakni berbayar dan gratis.

Aplikasi-aplikasi khususnya yang gratis tentu memiliki banyak sekali kelemahan, seperti banyaknya iklan yang tampil. Namun lebih dari itu, ternyata ada bahayanya dari aplikasi gratisan yang dtawarkan oleh developer.

Aplikasi gratis yang menampilkan banyak iklan, bisa membuat kita sakit kepala, hal ini diungkapkan oleh para peneliti. Sebuah studi terbaru juga menemukan, selain iklan, aplikasi gratis ini menguras baterai ponsel Anda lebih cepat, dan menggunakan lebih banyak data.

“Iklan di aplikasi gratis menguras baterai ponsel Anda lebih cepat, aplikasi ini juga diatur berjalan lebih lambat dan menggunakan data lebih banyak,” kata William Halfond, penulis dan penelitian yang akan mempresentasikan pada Konferensi Internasional tentang Rekayasa Perangkat Lunak (ICSE) di Italia pada bulan Mei.

Bila dibandingkan dengan aplikasi tanpa iklan, para peneliti menemukan bahwa ada bahaya dari aplikasi gratis ini, di antaranya:

Aplikasi gratis yang menayangkan iklan menggunakan rata-rata 16 persen lebih banyak energi, sehingga menurunkan daya tahan baterai smartphone 2,5-2,1 jam dari waktu rata-rata.

Central Processing Unit A telepon (CPU) adalah seperti otaknya, dan iklan memakan banyak kekuatan otak, sehingga akan memperlambat dan menurunkan kinerja CPU.

Aplikasi dengan iklan mengambil rata-rata 48 persen waktu CPU, menggunakan memori 22 persen lebih besar dan 56 persen utilisasi CPU yang lebih besar (jumlah waktu CPU yang digunakan). Karena iklan sendiri merupakan sebuah konten yang telah diunggah, maka aplikasi dengan iklan menyebabkan smartphone menggunakan lebih banyak data, hingga 100 persen lebih, dalam beberapa kasus.

Rata-rata, aplikasi ini menggunakan sekitar 79 persen lebih banyak data jaringan, biaya yang keluar diperkirakan 1,7 sen setiap kali mereka digunakan–berdasarkan rata-rata biaya per MB dibebankan oleh AT & T.

Selanjutnya, Halfond mengatakan ia berharap untuk menciptakan model-model yang akan memungkinkan pengembang aplikasi untuk memprediksi, seberapa baik produk mereka akan diterima oleh masyarakat, dengan dan tanpa iklan.

“Apps adalah masa depan perangkat lunak. Pikiran bahwa kita semua akan terus mengkonsumsi perangkat lunak, daripada desktop yang ketinggalan jaman,” tambahnya. Dilansir viva.co.id
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger